Minggu, 10 Maret 2013

Kalimat tenses

Tugas Softskill Nama : Susi Susilowati NPM : 26210760 Kelas : 3EB20 1. Simple Present ( Kebiasaan / sederhana sekarang) Adalah bentuk waktu yang digunakan untuk menyatakan perbuatan. Dimana perbuatan itu sedang dikerjakan atau sesuatu yang menjadi kebiasaan sehari-hari. Ciri – ciri keterangannya antara lain everyday, every Sunday, every month, every year, every week,etc Rumus : (+) S + V1 +O/C (-) S + DO/DOES + NOT + V1 + O/C (?) DO/DOES + S + V1 +O/C Contoh: (+) Cinta go to school everyday (-) Cinta does not go to school everyday (?) Does she go to school everyday? 2. Simple Past ( Bentuk Lampau Sederhana ) Adalah bentuk waktu yang menyatakan suattu perbuatan yang terjadi dimasa lampau ( bersifat sederhana ) dn tidak ada hubungannya sama sekali dengan masa sekarang . Ciri penandanya misalnya terdapat kata : lest week,yesterday,last years, ago, last Saturday dan sebagainya. Rumus : (+) S + TOBE + WAS/WERE + O/C (-) S + TOBE +WAS/WERE + NOT + O/C (?) TOBE + WAS/ WERE + S + O/C Contoh : (+) we played basket ball yesterday (-) we were not played basket ball yesterday (?) were we played basked ball yesterday? 3. Simple Future ( Akan Datang ) Adalah bentuk waktu yang menyatakan suatu perbuatan yang akan dikerjakan diwaktu mendatang. Ciri penandanya misalnya terdapat kata tomorrow, nextweek, next month, next year, next Saturday, dan sebagainya Rumus : Subject + auxiliary verb WILL + main verb Contoh : (+) I shall go to Jombang next moth (-) I shall not go to Jombang next month (?) shall I go to Jombang next month? 4. Present Continous ( Waktu sedang berlangsung sekarang ) Adalah bentuk waktu digunakan untuk meyatakan perbuatan yang sedang berlangsung atau sedang dikerjakan . ciri - ciri keterangan yang digunaka misalnya : now, right now, to day, this morning.dsb. Rumus : (+) S + TOBE + V1 + ING + O/C (-) S + TOBE + NOT + V1 + ING + O/C (?) TOBE + S + V1 + ING + O/C Contoh : (+) I am studying English now (-) I am not studying english now (?) am I studying English now? 5. Present Perfect ( bentuk kalimat sempurna selesai sekarang ) Adalah suatu bentuk kalimat dalam bahasa inggris yang menyatakan suatu perbuatan yang telah dikerjakan ( pada masa lampau ). Masa lampau bisa sekarang, baru saja,tadi, kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, dan sebagainya. Waktu yang demikian itu haru menggunakan bentuk present perfect. Biasanya kalimat present perfect ditandai misalnya dengan kata : since 1992, three times, two times, dan sebagainya. Rumus : Subject + auxiliary verb + main verb Contoh : (+) we have sung Indonesia raya together (-) we have not sung Indonesia raya together (?) have we sung Indonesia raya together?

Selasa, 01 Januari 2013

Tugas 4 kalimat efektif dan tidak efektif

Contoh kalimat efektif : Pembangunan jelas menuju zaman keemasan yang baru oleh karena itu, pembangunan menghendaki pengembangan bakat-bakat kebudayaan bangsa disegala lapangan,mulai dari hal-hal yang nampaknya kecil sampai masalah-masalah yang besar Contoh kalimat tidak efektif Pembangunan jelas menuju zaman keemasan yang baru, menghendaki pengembangan bakat-bakat pendukung kebudayaan bangsa disegala lapangan mulai dari hal-hal yang nampaknya kecil seperti cara mengatur tumah tangga, cara bergaul,dan cara memperoleh hiburan samapai meningkatkan masalah-masalah besar. Sumber : http://rzmapuspita.blogspot.com/2012/12/contoh-kalimat-efektif-dan-tidak-efektif.html

Tugas 3 - surat undangan

Bekasi , 02 Janiari 2013 No. : 008/UKPTI/KA24/UG/11 Perihal : Undangan Rapat Lampiran : - Dengan Hormat, Sehubungan dengan akan diselanggarakannya acara seminar nasional yang akan dilaksankan di Univeristas Gunadarma dengan tema “Uni Kolaborasi Antara Perguruan Tinggi dan Industri Dalam Meningkatkan Daya Saing Lululusan”. Maka dengan ini, kami mengundang seluruh Dosen S-1 FILKOM, guna mengikuti rapat untuk membahas mengenai acara seminar nasional tersebut pada pokok surat undangan, untuk hadir pada acara rapat yang akan dilaksanakan pada: Hari : Kamis Tanggal : 17 Januari 2013 Waktu : 09.00 WIB Tempat : Auditorium UG gd 4 lt 6, Depok Mengingat pentingnya acara tersebut, maka kami mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu hadir tepat pada waktunya. Demikian surat undangan ini kami buat, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Hormat kami, Mengetahui, Susi Susilowati Prof.Dr.E.S Margianti, SE.,MM (Ketua Panitia) (Rektor Univ. Gunadarma) Sumber : http://fitryzulia.blogspot.com/search?updated-min=2011-01-01T00:00:00-08:00&updated-max=2012-01-01T00:00:00-08:00&max-results=32

Senin, 10 Desember 2012

RASIO KEUANGAN BANK

A. PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS RASIO Untukmengetahuikondisikeuangansuatu bank, makadapatdilihatlaporankeuangan yang disajikanolehsuatu bank secaraperiodik.Laporaninijugasekaligusmenggambarkankinerja bank selamaperiodetersebut.Laporaninisangatbergunaterutamabagipemilik, manajemen, pemerintahdanmasyarakatsebagainasabah bank, gunamngetahuikondisi bank tersebut.Setiaplaporan yang disajikanharuslahdibuatsesuaidenganstandar yang telahditetapkan. Agar laporaninidpaatdibacasehinggamenjadibearti, makaperludilakukananalisaterlebihdahulu.Analisis yang digunakanadlahdenganmenggunakanrasio-rasiokeuangansesuaidenganstandar yang berlaku. 1. RasioLikuiditas Rasioinibertujuanuntukmengukurseberapalikuidsuatu bank.Dalamrasioiniterdiridaribeberapajenisrasio, yaitu : • Quick Ratio • Investing Policy Ratio • Banking Ratio • Assets to Loan Ratio • InvesmentPortofolio Ratio • Cash Ratio • Loan to Deposit Ratio (LDR) • Investment Risk Ratio • Liquidity Risk Ratio • Credit Risk Ratio • Deposit Risk Ratio 2. RasioSolvabilitas Rasioinibertujuanmengukurefisiensi bank dalammenjalankanaktivitasnya.Dalamrasioiniterdiridaribeberapajenis, yaitu : • Primary Ratio • Risk Assets Ratio • Secondary Risk Ratio • Capital Ratio • Capital Risk • Capital Adequacy Ratio 3. RasioRentabilitas Rasioinibertujuanmengukurefektivitas bank dalammencapaitujuannya. Dalamrasioiniterdiridaribeberapajenis, yaitu : • Gross Profit Margin • Net Profit Margin • Return on Equity Capital • Gross Yeild on Total Assets • Gross Profit Margin on Total Assets • Net Income on Total Assets • Rate Return on Loan • Interest Margin on Earning Assets • Interest Margin on Loans • Leverage Multiplier • Assets Utilization • Interest Expense Ratio • Cost of Pund B. RASIO LIKUIDITAS RasioLikuiditasmerupakanrasiountukmengukurkemampuan bank dalammemenuhikewajibanjangkapendeknyapadasaatditagih.Dengan kata lain, dapatmembayarkembalipencairandanadeposannyapadasaatditagihsertadapatmencukupipermintaankredit yang telahdiajukan. Semakinbesarrasioinisemakinlikuid. Untukmelakukanpengukuranrasioini, memilikibeberapajenisrasio yang masing-masingmemilikimaksuddantujuantersendiri.Adapunjenis-jenisrasiolikuiditassbagaiberikut : 1. Quick ratio Quick ratiomerupakanrasiountukmengukurkemampuan bank dalammemenuhikewajibannyaterhadapparadeposan (pemiliksimpanangiro, tabungan, dandeposito) denganharta yang paling likuid yang dimilikiolehsuatu bank. Rumusuntukmencari quick ratio sebagaiberikut : Quick Ratio = x 100% 2. Investing Policy Ratio Investing Policy Ratio merupakankemampuan bank dalammelunasikewajibannyakepadaparadeposannyadengancaramenglikuidasisurat-suratbeharga yang dimilikinya. RumusuntukmencariInvesting Policy Ratio sebagaiberikut : Investing Policy Ratio = x 100 % 3. Banking Ratio Banking Ratiobertujuanmengukurtingkatlikuiditas bank denganmembandingkanjumlahkredit yang disalurkandenganjumlah deposit yang dimiliki. Semakintinggirasioini, makatingkatlikuditas bank semakinrendahtingkatlikuiditas bank. RumusuntukmencariBanking Ratiosebagaiberikut : Banking Ratio = x 100 % 4. Assets to Loan Ratio Assets to Loan Ratiomerupakanrasiountukmengukurjumlahkredit yang disalurkandenganjumlahharta yang dimiliki bank.Semakintinggitingkatrasio, menunjukansemakinrendahnyatingkatlikuiditas bank. RumusuntukmencariAssets to Loan Ratio sebagaiberikut : Assets to Loan Ratio = x 100% 5. InvesmentPrortofolio Ratio InvesmentPrortofolio Ratio merupakanrasiountukmengukurtingkatlikuiditasdalaminvestasipadasurat-suratberharga. Untukmenghindarirasioini, perludiketahuiterlebihdahulu securities yang jatuhwaktunyakurangdarisatutahun, yang digunakanuntukmenjamindepositojikaada. 6. Cash Ratio Cash Ratio merupakanrasiountukmengukurkemampuan bank melunasikewajiban yang harussegaradibayardenganhartalikuid yang dimiliki bank tersebut. RumusuntukmencariCash Ratio sebagaiberikut : Cash Ratio = x 100% 7. Loan to Deposit Ratio (LDR) Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakanrasiountukmengukurkomposisijumlahkredit yang diberikandibandingdenganjumlahdanamasyarakatdan modal sendiri yang digunakan. BesarnyaLoan to Deposit Ratio menurutperaturanpemerintahmaksimumadalah 110%. RumusuntukmencariLoan to Deposit Ratio sebagaiberikut : Loan to Deposit Ratio = x 100% PengukuranRisiko-risiko 1. Investment Risk Ratio Investment Risk Ratio merupakanrasiountukmengukurrisiko yang terjadidalaminvestasisurat-suratberhargayaitudenganmembandingkanhargapasarsuratberhargadengannominalny. Semakintinggirisikoinibeartisemakinbesarkemampuan bank dalammenyediakanalat-alatlikuid. RumusuntukmencariInvestment Risk Ratio sebagaiberikut : Investment Risk Ratio = x 100% 2 Liquidity Risk Liquidity Risk merupakanrasiountukmengukurresiko yang akandihadapi bank apabilagagluntukmemenuhikewajibanterhadapparadeposannyadenganharta liquid yang dimilikinya. RumusuntukmencariLiquidity Risk sebagaiberikut : Liquidity Risk = x 100% 3. Credit Risk Ratio Credit Risk Ratio merupakanrasiountukmengukurresikoterhadapkredit yang disalurkandenganmembandingkankreditmacetdenganjumlahkredit yang disalurkan. RumusuntukmencariCredit Risk Ratio sebagaiberikut : Credit Risk Ratio = x 100% 4. Deposit Risk Ratio Rasioinidigunakanuntukmengukurrisikokegagalan bank membayarkembalideposannya. RumusuntukmencariDeposit Risk Ratio sebagaiberikut : Deposit Risk Ratio = x 100% C. RASIO SOLVABILITAS Merupakankemampuan bank mencarisumberdanauntukmembiayaikegiatannya. Bisajugadikatakanrasioinimerupakanalatukuruntukmelihatkekayaan bank untukmelihatefisiensibagipihakmanajemen bank tersebut. 1. Primary Ratio Merupakanrasiountukmengukurapakahpermodalan yang dimilikisudahmemadaiatausejauhmanapenurunan yang terjadidalam total asset masukdapatditutupiolehcapital equity. RumusuntukmencariPrimary Ratio sebagaiberikut : Primary Ratio = x 100% 2. Risk Assets Ratio Merupakanrasiountukmengukurkemungkinanpenurunan risk assets. RumusuntukmencariRisk Assets Ratio sebagaiberikut : Risk Assets Ratio = x 100% 3. Secondary Risk ratio Merupakanrasiountukmengukurpenurunanaset yang mempunyairisikolebihtinggi. RumusuntukmencariSecondary Risk ratio sebagaiberikut : Secondary Risk ratio = x 100% 4. Capital Ratio Merupakanrasiountukmengukurpermodalandancadanganpenghapusandalammenaggungpekreditan, terutamaresiko yang terjadikarenabungagagalditagih. RumusuntukmencariCapital Risk sebagaiberikut : Capital Risk = x 100% 5. Capital Risk samadengan Secondary Risk Ratio 6. Capital Adequacy ratio 1 (CAR1 ) Untukmencarirasioiniperluterlebihdahuluuntukdiketahuiberapabesarnyaestimasiresiko yang akanterjadidalampemberiankreditdanresiko yang akanterjadidalamperdagangansurat-suratberharga. Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) RumusuntukmencariCapital Adequacy Ratio 2sebagaiberikut : CAR2 = x 100% D. RASIO RENTABILITAS Rentabilitasrasioseringdisebutprofitabilitasusaha.Rasioinidigunakanuntukmengukurtingkatefisiensiusahadanprofitabilitas yang dicapaiolehbank yangbersangkutan. Rentabilitasrasioiniterdiridari : 1. Gross Profit Margin Rasioinidigunakanuntukmengetahuipersentasilabadarikegiatanusahamurnidari bank yang bersangkutan.Setelahdikurangibiaya-biaya. RumusuntukmencariGross Profit Marginsebagaiberikut : Gross Profit Margin = x 100% 2. Net Profit Margin Net Profit Margin merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasi pokoknya. Rumus untuk mencari Net Profit Margin sebagai berikut : Net Profit Margin = x 100% 3. Return on Equity Capital atau ROE Return on Equity Capital atau ROE merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola capital yang ada untuk mendapatkan net income. Rumus untuk mencari return on equity capital sebagai berikut : Return on Equity Capital = x 100% 4. Return on Total Assets a. Gross Yield on Total Assets Untuk mengukur kemampuan manajemen menghasilkan income dari pengelolaan assets. Rumus untuk mencari Gross Yield on Total Assets sebagai berikut : Gross Yield on Total = x 100% b. Net Income Total Assets Utuk mengukur kemampuan manajemen dalam memperoleh profatibilitas dan manajerial efisiensi secara overal. Rumus untuk mencari Net Income Total Assets sebagai berikut : Net Income Total Assets = x 100% 5. Rate Return on Loans Analisis ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola kegiatan perkrditannya. Rumus untuk mencari Rate return on loans sebagai berikut : Rate return on loans = x 100% 6. Interest Margin on Earning Assets Merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya-biaya. Rumus untuk mencari Interest Margin on Earning Assets sebagai berikut : Interest margin on earning asset = x 100% 7. Leverage Multiplier Merupakan alat ukur mengukur kemampuan manajemen dalam dalam mengelola asetnya, karena adanya biaya yang harus dikeluarkan akibat penggunaan aktiva. Rumus untuk mencari Leverage Multiplier sebagai berikut : Leverage Multiplier = x 100% 8. Assets Utilization Rasio ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan manajemen suatu bank dalam mengelola aset dalam rangka menghasilkan operating income dan nonoperating income. Rumus untuk mencari Assets utilization sebagai berikut : Assets Utilization = x100% 9. Interest Expense Ratio Rasio ini digunakan untuk mengukur besarnya persentase antar bunga yang dibayar kepada para deposannya dengan total deposit yang ada di bank. Rumus untuk mencari interest expense ratio sebagai berikut : interest expense ratio = x 100% 10. Cost of Fund Merupakan rasio untuk mengukur besarnya biaya yang dikeluarkan untuk sejumlah deposit yang ada di bank tersebut. Rumus untuk mencari cost of fund sebagai berikut : Cost of fund = x 100% 11. Cost of Money Rumus untuk mencari cost of money sebagai berikut : Cost of money = x 100% 12. Cost of Loanable Fund Rumus untuk mencari Cost of Loanable Fund sebagai berikut : Cost of Loanable Fund = x 100% 13. Cost of Operable Fund Rumus untuk mencari cost of operable fund sebagai berikut : cost of operable fund = x 100% 14. Cost of Efficiency Digunakan untuk mengukur efisiensi usaha yang dilakukan oleh bank. Atau mengukur besarnya biaya bank yang digunakan untuk memperoleh earning assets. Rumus untuk mencari cost of efficiency sebagai berikut : Cost of efficiency = x 100% Sumber : http://fikiwarobay.blogspot.com/2012/05/rasio-keuangan-bank.html

Pengertian Camels dalam perbankan

PENGERTIAN CAMEL Dalam kamus Perbankan (Institut Bankir Indonesia), edisi kedua tahun 1999: CAMEL adalah aspek yang paling banyak berpengaruh terhadap kondisi keuangan bank, yang mempengaruhi pula tingkat kesehatan bank, CAMEL merupakan tolok yang menjadi obyek pemeriksaan bank yang dilakukan oleh pengawas bank. CAMEL terdiri atas lima criteria yaitu modal, aktiva, manajemen, pendapatan dan likuiditas. Berdasarkan kamus Perbankan (Institut Bankir Indonesia), edisi kedua tahun 1999, peringkat CAMEL dibawah 81memperlihatkan kondisi keuangan yang lemah yang ditunjukan oleh neraca bank, seperti rasio kredit tak lancar terhadap total aktiva yang meningkat, apabila hal tersebut tidak diatasi akan mengganggu kelangsungan usaha bank, bank yang terdaftar pada pengawasan dianggap sebagai bank bermasalah dan diperiksa lebih sering oleh pengawas bank jika dibandingkan dengan bank yang tidak bermasalah. Bank dengan peringkat CAMEL diatas 81 adalah bank dengan pendapatan yang kuat dan aktiva tak lancer sedikit, peringkat CAMEL tidak pernah diinformasikan secara luas. Rasio CAMEL adalah menggambarkan suatu hubungan atau perbandingan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. dengan analisis rasio dapat diperoleh gambaran baik buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu bank. Manfaat Rasio Keuangan untuk Memprediksi Kebangkrutan Machfoedz (1994) menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi laba perusahaan dimasa yang akan datang. Rasio keuangan yang digunakan adalah cash flows/current liabilities, net worth and total liabilities/fixed assets, gross profit/sales, operating income/sales, net income/sales, quick assets/inventory, operating income/total liabilities,net worth/sales, current liabilities/net worth, dan net worth/total liabilities. Ditemukan bahwa rasio keuangan yang digunakan dalam model bermanfaat untuk memprediksi laba satu tahun ke muka, namun tidak bermanfaat untuk memprediksi lebih dari satu tahun. Penelitian berkaitan dengan prediksi kebangkrutan bank di Indonesia dilakukan oleh Wilopo (2001). Penyampelan dalam penelitian ini dilakukan secara cluster yaitu 235 bank pada akhir tahun 1996 dibagi menjadi 16 ban terlikuidasi dan 219 bank yang tidak dilikuidasi, selanjutnya diambil 40% sebagai sampel estimasi, terdiri atas 7 bank terlikuidasi dan 87 bank yang tidak dilikuidasi. Kemudian dari 215 bank pada akhir tahun 1997 yang terdiri atas 38 bank terlikuidasi dan 177 bank pada tahun 1999 yang tidak dilikuidasi, diambil 40% sebagai sampel validasi yang terdiri atas 16 bank terlikuidasi dan 70 bank yang tidak dilikuidasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk memprediksikan kebangkrutan bank adalah rasio keuangan model CAMEL (13 rasio), besaran (size) bank yang diukur dengan log. assets, dan variabel dummy (kredit lancar dan manajemen). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat prediksi variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini tinggi (lebih dari 50% sebagai cutoff value-nya). Tetapi jika dilihat dari tipe kesalahan yang terjadi tampak bahwa kekuatan prediksi untuk bank yang dilikuidasi 0% karena dari sampel bank yang dilikuidasi, semuanya diprediksikan tidak dilikuidasi. Dengan demikian hasil penelitian ini tidak mendukung hipotesis yang diajukan bahwa “rasio keuangan model CAMEL, besaran (size) bank serta kepatuhan terhadap Bank Indonesia” dapat digunakan untuk memprediksikan kegagalan bank di Indonesia. Simpulan ini diambil didasarkan atas tipe kesalahan yang terjadi, khusus kasus di Indonesia ternyata rasio CAMEL serta variabel-variabel independen lain yang digunakan dalam penelitian ini belum dapat memprediksikan kegagalan bank. Dengan demikian perlu eksplorasi lebih lanjut terhadap variabel lain di luar rasio keuangan agar diperoleh model yang lebih tepat untuk memprediksikan kegagalan bank. Sedangkan penelitian yang dilakukan Swandari (2002) berusaha untuk menganalisa apakah tingginya perilaku risiko dari pemegang saham, kepemilikan institusi dan kinerja mempengaruhi kebangkrutan bank. Sampel penelitian ini terdiri dari bank yang dikategorikan fail dan bank yang sehat yang terdiri atas 25 bank yang dikategorikan fail dan 35 bank yang sehat atau survive. Dalam penelitian ini variabel kinerja diproksikan dengan NITA (laba bersih / total aktiva) dan FUTL (laba operasi / total kewajiban), selain itu dalam penelitian ini juga memasukkan variabel kontrol yaitu size perusahaan dan jumlah modal. Diprediksikan bahwa perilaku risiko berpengaruh positif terhadap kebangkrutan bank, sedangkan porsi kepemilikan institusi dan kinerja berpengaruh negatif terhadap kebangkrutan bank. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1. Variabel perilaku resiko memiliki tanda sesuai dengan prediksi namun secara statistik tidak signifikan atau dapat dikatakan hipotesis yang dinyatakan dalam penelitian ini ditolak. Hasil ini sejalan dengan teori agency cost of debt yang menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi akan menyebabkan manajer atau pemilik bank berperilaku lebih beresiko atas beban debtholder atau para deposan. Dengan kata lain, pemilik akan berupaya meningkatkan nilai opsi call dari saham yang mereka miliki. 2. Variabel proksi kepemilikan institusi juga memiliki tanda sesuai prediksi namun secara statistik tidak signifikan atau dapat dikatakan hipotesis yang dinyatakan dalam penelitian ini ditolak.. 3. Sedangkan dua variabel kinerja yang digunakan yaitu NITA dan FUTL, keduanya memberikan dukungan terhadap hipotesis yang dinyatakan dalam penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh Haryati (2002) berusaha untuk menganalisa: (1) apakah terdapat perbedaan bermakna kinerja keuangan yang diukur dari rasio cadangan penghapusan kredit terhadap kredit, ROA, efisiensi dan LDR antar bank kelompok kategori A, B dan C, dan (2) apakah rasio keuangan tersebut mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap kemungkinan kebangkrutan bank-bank kategori A, B dan C. Hasil dari penelitian ini adalah empat rasio keuangan yang digunakan ternyata rasio ROA, Efisiensi dan LDR mempunyai perbedaan yang signifikan di antara bank-bank dalam kategori A, B dan C. Adapun rasio Cadangan Penghapusan Kredit terhadap Kredit tidak mempunyai perbedaan bermakna mengingat pengukuran rasio ini untuk menilai kualitas asset dari bank kurang tepat (tidak sesuai dengan pengukuran sebagaimana telah ditentukan oleh Bank Indonesia). Penggunaan rasio keuangan yang mempunyai perbedaan signifikan dalam model logistic regression untuk menguji prediksi kebangkrutan bank-bank dalam kategori bangkrut adalah akurat yang ditunjukkan dengan tingkat kemaknaan 0,00%. Dari ketiga rasio ROA, Efisiensi dan LDR hanya rasio ROA yang mempunyai pengaruh bermakna terhadap kemungkinan kebangkrutan bank. Etty M. Nasser dan Titik Aryati (2000) menyimpulkan bahwa dengan uji univariate ada dua jenis rasio yang signifikan yang membedakan bank sehat dan bank gagal yaitu rasio EATAR dan OPM. Untuk rasio keuangan yang dominan mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan bank adalah EATAR dan PBTA melalui analisis Stepwise Statistic, dan dengan analisis Casewise Statistic dapat diketahui tingkat keberhasilan keseluruhan dari fungsi diskriminan dan untuk peramalan empat tahun sebelum bangkrut adalah 67,6 %. Penelitian ini menggunakan bank go public sebagai sampel. Variabel bebas yang digunakan adalah beberapa rasio-rasio keuangan model CAMEL yaitu CAR1, CAR2, ETA, RORA, ALR, NPM, OPM, ROA, ROE, BOPO, PBTA, EATAR, dan LDR. Sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah Financial Distress dengan dua alternatif yaitu bank sehat dan bank gagal. Secara empiris tingkat kegagalan bisnis dan kebangkrutan bank dengan menggunakan rasio-rasio keuangan model CAMEL dapat dibuktikan sebagaimana yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti yaitu : Thomson (1991) dalam Wilopo (2001) yang menguji manfaat rasio keuangan CAMEL dalam memprediksi kegagalan bank di USA pada tahun 1980an dengan menggunakan alat statistik regresi logit, Whalen dan Thomson (1988) dalam Wilopo (2001) menemukan bahwa rasio keuangan CAMEL cukup akurat dalam menyusun rating bank, dan di Indonesia Surifah (1999) menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan bank dengan menggunakan model CAMEL. Sumber : http://arririchadd.wordpress.com/2012/04/30/camels/

Permodalan Bank

Pengertian modal secara umum adalah modal diartikan sejumlah dana yang ditanamkan kedalam suatu perusahaan oleh para pemiliknya untuk pembentukan suatu badan usaha dan menghendaki agar uang yang ditanamkannya, memberikan hasil. Harapan atas pengembangan modal tersebut, diperoleh dari keuntungan atas operasional usaha, begitupun sebaliknya bila perusahaan mengalami kerugian, maka kondisi modal akan mengalami penurunan. Sementara itu, pengertian modal bank dapat diartikan sebagai modal yang ditanamkan di Bank dan terdiri dari core modal dan modal penyangga. Pada unsur modal bank, core modal disebut Modal Inti dan Modal Penyangga atau disebut sebagai Modal Pelengkap. Dalam neraca bank, terlihat bahwa rekening-rekening modal merupakan kewajiban dari passiva yang tergolong “Non Current” artinya diluar dari kewajiban segera, tetapi modal merupakan kewajiban dari bank terhadap pemiliknya. Untuk itu manajemen bank harus mempertangungjawabkan pengelolaan modal ini kepada pemegang saham pada waktu yang telah ditentukan, misalnya setahun sekali dalam RUPS. Modal merupakan salah satu faktor penting bagi Bank dalam rangka pengembangan usaha dan menampung risiko, tetapi juga sebagai sumber utama dana bank dalam memproteksi para deposannya. Berdasarkan ketentuan, maka modal bank terdiri dari Modal Inti dan Modal Pelengkap. Modal Inti Modal inti adalah modal sendiri yang terdiri atas modal disetor, modal sumbangan, cadangan-cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak. Komponen Modal Inti, dapat berupa Modal Disetor, Agio Saham, Modal Sumbangan, Cadangan Umum, Cadangan Tujuan, Laba yang Ditahan, Laba Tahun Lalu, Laba Tahun Berjalan, kesemuanya dikurangi dengan kekurangan pembentukan jumlah PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif). Secara rinci penjelasan komponen atas Modal Inti tersebut, terurai sebagai berikut : • Modal Disetor, yaitu modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya • Agio Saham, merupakan selisih setoran modal yang diterima oleh Bank sebagi akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya. • Modal Sumbangan, berupa modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham, termasuk selisih antara nilai yang tercatat dengan harga jual apabila saham tersebut dijual. Modal yang berasal dari donasi pihak luar yang diterima oleh Bank yang berbentuk Hukum Koperasi, juga termasuk dalam pengertian modal sumbangan. • Cadangan Umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang diatahan atau laba bersih setelah dikurangi pajak dan mendapat persetujuan RUPS atau rapat anggota sesuai dengan ketentuan pendirian atau anggaran dasar masing-masing Bank. • Cadangan Tujuan, yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan RUPS atau Rapat Anggota. • Laba yang Ditahan, yaitu laba bersih yang dalam RUPS diputuskan untuk tidak dibagikan. • Laba Tahun Lalu, yaitu seluruh laba bersih tahun-tahun yang lalu yang peruntukannya belum ditentukan oleh RUPS. h. Laba Tahun Berjalan, yaitu laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi TAKSIRAN UTANG PAJAK, dimana Laba Tahun Berjalan ini, diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50 % . Modal Pelengkap Modal Pelengkap, adalah modal yang terdiri atas cadangan yang dibentuk tidak bersumber dari laba setelah pajak, modal pinjaman serta modal subordinasi, yang terdiri atas : • Cadangan Revaluasi Aktiva Tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali Aktiva Tetap yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. • Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), yang diakui sebagai komponen modal pelengkap sebesar 1,25 % dari dari Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). • Modal Pinjaman, yaitu utang yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal dan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : o Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan, dipersamakan dengan modal dan telah dibayar penuh. Tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik, tanpa persetujuan Bank Indonesia. o Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah kerugian Bank melebihi laba yang ditahan dan cadangan-cadangan yang termasuk modal inti, meskipun bank belum dilikuidasi. o Pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila bank dalam keadaan rugi atau labanya tidak mendukung untuk membayar bunga tersebut. • Pinjaman Subordinasi, yakni pinjaman yang memenuhi syarat-syarat khusus secara tertulis, mendapat persetujuan dari Bank Indonesia, tidak dijamin oleh Bank yang bersangkutan, minimal berjangka waktu 5 tahun, pelunasan sebelum jatuh tempo harus melalui persetujuan Bank Indonesia serta saat pelunasan tersebut kondisi bank tetap sehat. Adapun fungsi permodalan bank, yaitu : • FUNGSI OPERATING, modal seyogyanya untuk membiayai aktiva tetap dan inventaris, yang bersifat permanen mengingat modal adalah salah satu sumber dana jangka panjang. • FUNGSI REGULATORY, permodalan bank harus memenuhi ketentuan yang dikeluarkan oleh otoritas moneter bertujuan untuk membatasi risiko yang mungkin timbul dari aktivitas bank. • FUNGSI PROTECTIVE, yakni modal berfungsi untuk melindungi atau sebagai bumper dalam menyerap kerugian deposan” Sumber : http://bankirnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=95:permodalan-bank&catid=73:akuntansi&Itemid

PENGERTIAN KLIRING

Kliring adalah suatu tata cara perhitungan hutang piutang dalam bentuk surat-surat dagang dan surat berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya dengan maksud agar penyelesaiannya mudah dan aman serta untuk memperlancar pembayaran giral. Giral adalah simpanan dari pihak ketiga yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan cek, surat perintah pembayaran lainnya atau pemindahbukuan. Lalu lintas giral adalah proses kegiatan bayar membayar dengan warkat/nota kliring, yang dilakukan dengan cara saling memperhitungkan antar bank, baik atas beban maupun untuk keuntungan nasabah yang bersangkutan. Warkat/nota kliring adalah alat atau sarana yang digunakan dalam lalu lintas giral, yaitu : • Cek • Bilyet giro • Wesel bank untuk transfer/wesel unjuk • Bukti penerimaan transfer • Nota kredit Syarat warkat yang dapat dikliringkan : • Bervaluta Rupiah • Bernilai nominal penuh • Telah jatuh tempo • Telah dibubuhi cap kliring Peserta Kliring • Peserta Langsung : Bank yang sudah tercatat sebagai peserta kliring dan dapat memperhitungkan warkat/notanya secara langsung dengan BI atau melalui PT Trans Warkat sebagai perantara. • Peserta tidak Langsung : Bank yang belum terdaftar sebagai peserta kliring akan tetapi mengikuti kegiatan kliring melalui bank yang telah terdaftar. Jenis – jenis Kliring 1. Kliring umum : sarana perhitungan warkat antar bank yang pelaksanaannya diatur oleh BI (Bank Indoensia). 2. Kliring lokal : sarana perhitungan warkat antar bank yang berada dalam satu wilayah kliring. 3. Kliring antar cabang / Interbranch clearing : sarana perhitungan warkat antar kantor cabang suatu bank peserta yang biasanya berada dalam satu wilayah kota. Sumber : http://mnurisya.blogspot.com/2011/10/pengertian-kliring_26.html