Senin, 10 Desember 2012

RASIO KEUANGAN BANK

A. PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS RASIO Untukmengetahuikondisikeuangansuatu bank, makadapatdilihatlaporankeuangan yang disajikanolehsuatu bank secaraperiodik.Laporaninijugasekaligusmenggambarkankinerja bank selamaperiodetersebut.Laporaninisangatbergunaterutamabagipemilik, manajemen, pemerintahdanmasyarakatsebagainasabah bank, gunamngetahuikondisi bank tersebut.Setiaplaporan yang disajikanharuslahdibuatsesuaidenganstandar yang telahditetapkan. Agar laporaninidpaatdibacasehinggamenjadibearti, makaperludilakukananalisaterlebihdahulu.Analisis yang digunakanadlahdenganmenggunakanrasio-rasiokeuangansesuaidenganstandar yang berlaku. 1. RasioLikuiditas Rasioinibertujuanuntukmengukurseberapalikuidsuatu bank.Dalamrasioiniterdiridaribeberapajenisrasio, yaitu : • Quick Ratio • Investing Policy Ratio • Banking Ratio • Assets to Loan Ratio • InvesmentPortofolio Ratio • Cash Ratio • Loan to Deposit Ratio (LDR) • Investment Risk Ratio • Liquidity Risk Ratio • Credit Risk Ratio • Deposit Risk Ratio 2. RasioSolvabilitas Rasioinibertujuanmengukurefisiensi bank dalammenjalankanaktivitasnya.Dalamrasioiniterdiridaribeberapajenis, yaitu : • Primary Ratio • Risk Assets Ratio • Secondary Risk Ratio • Capital Ratio • Capital Risk • Capital Adequacy Ratio 3. RasioRentabilitas Rasioinibertujuanmengukurefektivitas bank dalammencapaitujuannya. Dalamrasioiniterdiridaribeberapajenis, yaitu : • Gross Profit Margin • Net Profit Margin • Return on Equity Capital • Gross Yeild on Total Assets • Gross Profit Margin on Total Assets • Net Income on Total Assets • Rate Return on Loan • Interest Margin on Earning Assets • Interest Margin on Loans • Leverage Multiplier • Assets Utilization • Interest Expense Ratio • Cost of Pund B. RASIO LIKUIDITAS RasioLikuiditasmerupakanrasiountukmengukurkemampuan bank dalammemenuhikewajibanjangkapendeknyapadasaatditagih.Dengan kata lain, dapatmembayarkembalipencairandanadeposannyapadasaatditagihsertadapatmencukupipermintaankredit yang telahdiajukan. Semakinbesarrasioinisemakinlikuid. Untukmelakukanpengukuranrasioini, memilikibeberapajenisrasio yang masing-masingmemilikimaksuddantujuantersendiri.Adapunjenis-jenisrasiolikuiditassbagaiberikut : 1. Quick ratio Quick ratiomerupakanrasiountukmengukurkemampuan bank dalammemenuhikewajibannyaterhadapparadeposan (pemiliksimpanangiro, tabungan, dandeposito) denganharta yang paling likuid yang dimilikiolehsuatu bank. Rumusuntukmencari quick ratio sebagaiberikut : Quick Ratio = x 100% 2. Investing Policy Ratio Investing Policy Ratio merupakankemampuan bank dalammelunasikewajibannyakepadaparadeposannyadengancaramenglikuidasisurat-suratbeharga yang dimilikinya. RumusuntukmencariInvesting Policy Ratio sebagaiberikut : Investing Policy Ratio = x 100 % 3. Banking Ratio Banking Ratiobertujuanmengukurtingkatlikuiditas bank denganmembandingkanjumlahkredit yang disalurkandenganjumlah deposit yang dimiliki. Semakintinggirasioini, makatingkatlikuditas bank semakinrendahtingkatlikuiditas bank. RumusuntukmencariBanking Ratiosebagaiberikut : Banking Ratio = x 100 % 4. Assets to Loan Ratio Assets to Loan Ratiomerupakanrasiountukmengukurjumlahkredit yang disalurkandenganjumlahharta yang dimiliki bank.Semakintinggitingkatrasio, menunjukansemakinrendahnyatingkatlikuiditas bank. RumusuntukmencariAssets to Loan Ratio sebagaiberikut : Assets to Loan Ratio = x 100% 5. InvesmentPrortofolio Ratio InvesmentPrortofolio Ratio merupakanrasiountukmengukurtingkatlikuiditasdalaminvestasipadasurat-suratberharga. Untukmenghindarirasioini, perludiketahuiterlebihdahulu securities yang jatuhwaktunyakurangdarisatutahun, yang digunakanuntukmenjamindepositojikaada. 6. Cash Ratio Cash Ratio merupakanrasiountukmengukurkemampuan bank melunasikewajiban yang harussegaradibayardenganhartalikuid yang dimiliki bank tersebut. RumusuntukmencariCash Ratio sebagaiberikut : Cash Ratio = x 100% 7. Loan to Deposit Ratio (LDR) Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakanrasiountukmengukurkomposisijumlahkredit yang diberikandibandingdenganjumlahdanamasyarakatdan modal sendiri yang digunakan. BesarnyaLoan to Deposit Ratio menurutperaturanpemerintahmaksimumadalah 110%. RumusuntukmencariLoan to Deposit Ratio sebagaiberikut : Loan to Deposit Ratio = x 100% PengukuranRisiko-risiko 1. Investment Risk Ratio Investment Risk Ratio merupakanrasiountukmengukurrisiko yang terjadidalaminvestasisurat-suratberhargayaitudenganmembandingkanhargapasarsuratberhargadengannominalny. Semakintinggirisikoinibeartisemakinbesarkemampuan bank dalammenyediakanalat-alatlikuid. RumusuntukmencariInvestment Risk Ratio sebagaiberikut : Investment Risk Ratio = x 100% 2 Liquidity Risk Liquidity Risk merupakanrasiountukmengukurresiko yang akandihadapi bank apabilagagluntukmemenuhikewajibanterhadapparadeposannyadenganharta liquid yang dimilikinya. RumusuntukmencariLiquidity Risk sebagaiberikut : Liquidity Risk = x 100% 3. Credit Risk Ratio Credit Risk Ratio merupakanrasiountukmengukurresikoterhadapkredit yang disalurkandenganmembandingkankreditmacetdenganjumlahkredit yang disalurkan. RumusuntukmencariCredit Risk Ratio sebagaiberikut : Credit Risk Ratio = x 100% 4. Deposit Risk Ratio Rasioinidigunakanuntukmengukurrisikokegagalan bank membayarkembalideposannya. RumusuntukmencariDeposit Risk Ratio sebagaiberikut : Deposit Risk Ratio = x 100% C. RASIO SOLVABILITAS Merupakankemampuan bank mencarisumberdanauntukmembiayaikegiatannya. Bisajugadikatakanrasioinimerupakanalatukuruntukmelihatkekayaan bank untukmelihatefisiensibagipihakmanajemen bank tersebut. 1. Primary Ratio Merupakanrasiountukmengukurapakahpermodalan yang dimilikisudahmemadaiatausejauhmanapenurunan yang terjadidalam total asset masukdapatditutupiolehcapital equity. RumusuntukmencariPrimary Ratio sebagaiberikut : Primary Ratio = x 100% 2. Risk Assets Ratio Merupakanrasiountukmengukurkemungkinanpenurunan risk assets. RumusuntukmencariRisk Assets Ratio sebagaiberikut : Risk Assets Ratio = x 100% 3. Secondary Risk ratio Merupakanrasiountukmengukurpenurunanaset yang mempunyairisikolebihtinggi. RumusuntukmencariSecondary Risk ratio sebagaiberikut : Secondary Risk ratio = x 100% 4. Capital Ratio Merupakanrasiountukmengukurpermodalandancadanganpenghapusandalammenaggungpekreditan, terutamaresiko yang terjadikarenabungagagalditagih. RumusuntukmencariCapital Risk sebagaiberikut : Capital Risk = x 100% 5. Capital Risk samadengan Secondary Risk Ratio 6. Capital Adequacy ratio 1 (CAR1 ) Untukmencarirasioiniperluterlebihdahuluuntukdiketahuiberapabesarnyaestimasiresiko yang akanterjadidalampemberiankreditdanresiko yang akanterjadidalamperdagangansurat-suratberharga. Capital Adequacy Ratio 2 (CAR2) RumusuntukmencariCapital Adequacy Ratio 2sebagaiberikut : CAR2 = x 100% D. RASIO RENTABILITAS Rentabilitasrasioseringdisebutprofitabilitasusaha.Rasioinidigunakanuntukmengukurtingkatefisiensiusahadanprofitabilitas yang dicapaiolehbank yangbersangkutan. Rentabilitasrasioiniterdiridari : 1. Gross Profit Margin Rasioinidigunakanuntukmengetahuipersentasilabadarikegiatanusahamurnidari bank yang bersangkutan.Setelahdikurangibiaya-biaya. RumusuntukmencariGross Profit Marginsebagaiberikut : Gross Profit Margin = x 100% 2. Net Profit Margin Net Profit Margin merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasi pokoknya. Rumus untuk mencari Net Profit Margin sebagai berikut : Net Profit Margin = x 100% 3. Return on Equity Capital atau ROE Return on Equity Capital atau ROE merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola capital yang ada untuk mendapatkan net income. Rumus untuk mencari return on equity capital sebagai berikut : Return on Equity Capital = x 100% 4. Return on Total Assets a. Gross Yield on Total Assets Untuk mengukur kemampuan manajemen menghasilkan income dari pengelolaan assets. Rumus untuk mencari Gross Yield on Total Assets sebagai berikut : Gross Yield on Total = x 100% b. Net Income Total Assets Utuk mengukur kemampuan manajemen dalam memperoleh profatibilitas dan manajerial efisiensi secara overal. Rumus untuk mencari Net Income Total Assets sebagai berikut : Net Income Total Assets = x 100% 5. Rate Return on Loans Analisis ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola kegiatan perkrditannya. Rumus untuk mencari Rate return on loans sebagai berikut : Rate return on loans = x 100% 6. Interest Margin on Earning Assets Merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya-biaya. Rumus untuk mencari Interest Margin on Earning Assets sebagai berikut : Interest margin on earning asset = x 100% 7. Leverage Multiplier Merupakan alat ukur mengukur kemampuan manajemen dalam dalam mengelola asetnya, karena adanya biaya yang harus dikeluarkan akibat penggunaan aktiva. Rumus untuk mencari Leverage Multiplier sebagai berikut : Leverage Multiplier = x 100% 8. Assets Utilization Rasio ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan manajemen suatu bank dalam mengelola aset dalam rangka menghasilkan operating income dan nonoperating income. Rumus untuk mencari Assets utilization sebagai berikut : Assets Utilization = x100% 9. Interest Expense Ratio Rasio ini digunakan untuk mengukur besarnya persentase antar bunga yang dibayar kepada para deposannya dengan total deposit yang ada di bank. Rumus untuk mencari interest expense ratio sebagai berikut : interest expense ratio = x 100% 10. Cost of Fund Merupakan rasio untuk mengukur besarnya biaya yang dikeluarkan untuk sejumlah deposit yang ada di bank tersebut. Rumus untuk mencari cost of fund sebagai berikut : Cost of fund = x 100% 11. Cost of Money Rumus untuk mencari cost of money sebagai berikut : Cost of money = x 100% 12. Cost of Loanable Fund Rumus untuk mencari Cost of Loanable Fund sebagai berikut : Cost of Loanable Fund = x 100% 13. Cost of Operable Fund Rumus untuk mencari cost of operable fund sebagai berikut : cost of operable fund = x 100% 14. Cost of Efficiency Digunakan untuk mengukur efisiensi usaha yang dilakukan oleh bank. Atau mengukur besarnya biaya bank yang digunakan untuk memperoleh earning assets. Rumus untuk mencari cost of efficiency sebagai berikut : Cost of efficiency = x 100% Sumber : http://fikiwarobay.blogspot.com/2012/05/rasio-keuangan-bank.html

Pengertian Camels dalam perbankan

PENGERTIAN CAMEL Dalam kamus Perbankan (Institut Bankir Indonesia), edisi kedua tahun 1999: CAMEL adalah aspek yang paling banyak berpengaruh terhadap kondisi keuangan bank, yang mempengaruhi pula tingkat kesehatan bank, CAMEL merupakan tolok yang menjadi obyek pemeriksaan bank yang dilakukan oleh pengawas bank. CAMEL terdiri atas lima criteria yaitu modal, aktiva, manajemen, pendapatan dan likuiditas. Berdasarkan kamus Perbankan (Institut Bankir Indonesia), edisi kedua tahun 1999, peringkat CAMEL dibawah 81memperlihatkan kondisi keuangan yang lemah yang ditunjukan oleh neraca bank, seperti rasio kredit tak lancar terhadap total aktiva yang meningkat, apabila hal tersebut tidak diatasi akan mengganggu kelangsungan usaha bank, bank yang terdaftar pada pengawasan dianggap sebagai bank bermasalah dan diperiksa lebih sering oleh pengawas bank jika dibandingkan dengan bank yang tidak bermasalah. Bank dengan peringkat CAMEL diatas 81 adalah bank dengan pendapatan yang kuat dan aktiva tak lancer sedikit, peringkat CAMEL tidak pernah diinformasikan secara luas. Rasio CAMEL adalah menggambarkan suatu hubungan atau perbandingan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. dengan analisis rasio dapat diperoleh gambaran baik buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu bank. Manfaat Rasio Keuangan untuk Memprediksi Kebangkrutan Machfoedz (1994) menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi laba perusahaan dimasa yang akan datang. Rasio keuangan yang digunakan adalah cash flows/current liabilities, net worth and total liabilities/fixed assets, gross profit/sales, operating income/sales, net income/sales, quick assets/inventory, operating income/total liabilities,net worth/sales, current liabilities/net worth, dan net worth/total liabilities. Ditemukan bahwa rasio keuangan yang digunakan dalam model bermanfaat untuk memprediksi laba satu tahun ke muka, namun tidak bermanfaat untuk memprediksi lebih dari satu tahun. Penelitian berkaitan dengan prediksi kebangkrutan bank di Indonesia dilakukan oleh Wilopo (2001). Penyampelan dalam penelitian ini dilakukan secara cluster yaitu 235 bank pada akhir tahun 1996 dibagi menjadi 16 ban terlikuidasi dan 219 bank yang tidak dilikuidasi, selanjutnya diambil 40% sebagai sampel estimasi, terdiri atas 7 bank terlikuidasi dan 87 bank yang tidak dilikuidasi. Kemudian dari 215 bank pada akhir tahun 1997 yang terdiri atas 38 bank terlikuidasi dan 177 bank pada tahun 1999 yang tidak dilikuidasi, diambil 40% sebagai sampel validasi yang terdiri atas 16 bank terlikuidasi dan 70 bank yang tidak dilikuidasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk memprediksikan kebangkrutan bank adalah rasio keuangan model CAMEL (13 rasio), besaran (size) bank yang diukur dengan log. assets, dan variabel dummy (kredit lancar dan manajemen). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat prediksi variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini tinggi (lebih dari 50% sebagai cutoff value-nya). Tetapi jika dilihat dari tipe kesalahan yang terjadi tampak bahwa kekuatan prediksi untuk bank yang dilikuidasi 0% karena dari sampel bank yang dilikuidasi, semuanya diprediksikan tidak dilikuidasi. Dengan demikian hasil penelitian ini tidak mendukung hipotesis yang diajukan bahwa “rasio keuangan model CAMEL, besaran (size) bank serta kepatuhan terhadap Bank Indonesia” dapat digunakan untuk memprediksikan kegagalan bank di Indonesia. Simpulan ini diambil didasarkan atas tipe kesalahan yang terjadi, khusus kasus di Indonesia ternyata rasio CAMEL serta variabel-variabel independen lain yang digunakan dalam penelitian ini belum dapat memprediksikan kegagalan bank. Dengan demikian perlu eksplorasi lebih lanjut terhadap variabel lain di luar rasio keuangan agar diperoleh model yang lebih tepat untuk memprediksikan kegagalan bank. Sedangkan penelitian yang dilakukan Swandari (2002) berusaha untuk menganalisa apakah tingginya perilaku risiko dari pemegang saham, kepemilikan institusi dan kinerja mempengaruhi kebangkrutan bank. Sampel penelitian ini terdiri dari bank yang dikategorikan fail dan bank yang sehat yang terdiri atas 25 bank yang dikategorikan fail dan 35 bank yang sehat atau survive. Dalam penelitian ini variabel kinerja diproksikan dengan NITA (laba bersih / total aktiva) dan FUTL (laba operasi / total kewajiban), selain itu dalam penelitian ini juga memasukkan variabel kontrol yaitu size perusahaan dan jumlah modal. Diprediksikan bahwa perilaku risiko berpengaruh positif terhadap kebangkrutan bank, sedangkan porsi kepemilikan institusi dan kinerja berpengaruh negatif terhadap kebangkrutan bank. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1. Variabel perilaku resiko memiliki tanda sesuai dengan prediksi namun secara statistik tidak signifikan atau dapat dikatakan hipotesis yang dinyatakan dalam penelitian ini ditolak. Hasil ini sejalan dengan teori agency cost of debt yang menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi akan menyebabkan manajer atau pemilik bank berperilaku lebih beresiko atas beban debtholder atau para deposan. Dengan kata lain, pemilik akan berupaya meningkatkan nilai opsi call dari saham yang mereka miliki. 2. Variabel proksi kepemilikan institusi juga memiliki tanda sesuai prediksi namun secara statistik tidak signifikan atau dapat dikatakan hipotesis yang dinyatakan dalam penelitian ini ditolak.. 3. Sedangkan dua variabel kinerja yang digunakan yaitu NITA dan FUTL, keduanya memberikan dukungan terhadap hipotesis yang dinyatakan dalam penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh Haryati (2002) berusaha untuk menganalisa: (1) apakah terdapat perbedaan bermakna kinerja keuangan yang diukur dari rasio cadangan penghapusan kredit terhadap kredit, ROA, efisiensi dan LDR antar bank kelompok kategori A, B dan C, dan (2) apakah rasio keuangan tersebut mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap kemungkinan kebangkrutan bank-bank kategori A, B dan C. Hasil dari penelitian ini adalah empat rasio keuangan yang digunakan ternyata rasio ROA, Efisiensi dan LDR mempunyai perbedaan yang signifikan di antara bank-bank dalam kategori A, B dan C. Adapun rasio Cadangan Penghapusan Kredit terhadap Kredit tidak mempunyai perbedaan bermakna mengingat pengukuran rasio ini untuk menilai kualitas asset dari bank kurang tepat (tidak sesuai dengan pengukuran sebagaimana telah ditentukan oleh Bank Indonesia). Penggunaan rasio keuangan yang mempunyai perbedaan signifikan dalam model logistic regression untuk menguji prediksi kebangkrutan bank-bank dalam kategori bangkrut adalah akurat yang ditunjukkan dengan tingkat kemaknaan 0,00%. Dari ketiga rasio ROA, Efisiensi dan LDR hanya rasio ROA yang mempunyai pengaruh bermakna terhadap kemungkinan kebangkrutan bank. Etty M. Nasser dan Titik Aryati (2000) menyimpulkan bahwa dengan uji univariate ada dua jenis rasio yang signifikan yang membedakan bank sehat dan bank gagal yaitu rasio EATAR dan OPM. Untuk rasio keuangan yang dominan mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan bank adalah EATAR dan PBTA melalui analisis Stepwise Statistic, dan dengan analisis Casewise Statistic dapat diketahui tingkat keberhasilan keseluruhan dari fungsi diskriminan dan untuk peramalan empat tahun sebelum bangkrut adalah 67,6 %. Penelitian ini menggunakan bank go public sebagai sampel. Variabel bebas yang digunakan adalah beberapa rasio-rasio keuangan model CAMEL yaitu CAR1, CAR2, ETA, RORA, ALR, NPM, OPM, ROA, ROE, BOPO, PBTA, EATAR, dan LDR. Sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah Financial Distress dengan dua alternatif yaitu bank sehat dan bank gagal. Secara empiris tingkat kegagalan bisnis dan kebangkrutan bank dengan menggunakan rasio-rasio keuangan model CAMEL dapat dibuktikan sebagaimana yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti yaitu : Thomson (1991) dalam Wilopo (2001) yang menguji manfaat rasio keuangan CAMEL dalam memprediksi kegagalan bank di USA pada tahun 1980an dengan menggunakan alat statistik regresi logit, Whalen dan Thomson (1988) dalam Wilopo (2001) menemukan bahwa rasio keuangan CAMEL cukup akurat dalam menyusun rating bank, dan di Indonesia Surifah (1999) menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan bank dengan menggunakan model CAMEL. Sumber : http://arririchadd.wordpress.com/2012/04/30/camels/

Permodalan Bank

Pengertian modal secara umum adalah modal diartikan sejumlah dana yang ditanamkan kedalam suatu perusahaan oleh para pemiliknya untuk pembentukan suatu badan usaha dan menghendaki agar uang yang ditanamkannya, memberikan hasil. Harapan atas pengembangan modal tersebut, diperoleh dari keuntungan atas operasional usaha, begitupun sebaliknya bila perusahaan mengalami kerugian, maka kondisi modal akan mengalami penurunan. Sementara itu, pengertian modal bank dapat diartikan sebagai modal yang ditanamkan di Bank dan terdiri dari core modal dan modal penyangga. Pada unsur modal bank, core modal disebut Modal Inti dan Modal Penyangga atau disebut sebagai Modal Pelengkap. Dalam neraca bank, terlihat bahwa rekening-rekening modal merupakan kewajiban dari passiva yang tergolong “Non Current” artinya diluar dari kewajiban segera, tetapi modal merupakan kewajiban dari bank terhadap pemiliknya. Untuk itu manajemen bank harus mempertangungjawabkan pengelolaan modal ini kepada pemegang saham pada waktu yang telah ditentukan, misalnya setahun sekali dalam RUPS. Modal merupakan salah satu faktor penting bagi Bank dalam rangka pengembangan usaha dan menampung risiko, tetapi juga sebagai sumber utama dana bank dalam memproteksi para deposannya. Berdasarkan ketentuan, maka modal bank terdiri dari Modal Inti dan Modal Pelengkap. Modal Inti Modal inti adalah modal sendiri yang terdiri atas modal disetor, modal sumbangan, cadangan-cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak. Komponen Modal Inti, dapat berupa Modal Disetor, Agio Saham, Modal Sumbangan, Cadangan Umum, Cadangan Tujuan, Laba yang Ditahan, Laba Tahun Lalu, Laba Tahun Berjalan, kesemuanya dikurangi dengan kekurangan pembentukan jumlah PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif). Secara rinci penjelasan komponen atas Modal Inti tersebut, terurai sebagai berikut : • Modal Disetor, yaitu modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya • Agio Saham, merupakan selisih setoran modal yang diterima oleh Bank sebagi akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya. • Modal Sumbangan, berupa modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham, termasuk selisih antara nilai yang tercatat dengan harga jual apabila saham tersebut dijual. Modal yang berasal dari donasi pihak luar yang diterima oleh Bank yang berbentuk Hukum Koperasi, juga termasuk dalam pengertian modal sumbangan. • Cadangan Umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang diatahan atau laba bersih setelah dikurangi pajak dan mendapat persetujuan RUPS atau rapat anggota sesuai dengan ketentuan pendirian atau anggaran dasar masing-masing Bank. • Cadangan Tujuan, yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan RUPS atau Rapat Anggota. • Laba yang Ditahan, yaitu laba bersih yang dalam RUPS diputuskan untuk tidak dibagikan. • Laba Tahun Lalu, yaitu seluruh laba bersih tahun-tahun yang lalu yang peruntukannya belum ditentukan oleh RUPS. h. Laba Tahun Berjalan, yaitu laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi TAKSIRAN UTANG PAJAK, dimana Laba Tahun Berjalan ini, diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50 % . Modal Pelengkap Modal Pelengkap, adalah modal yang terdiri atas cadangan yang dibentuk tidak bersumber dari laba setelah pajak, modal pinjaman serta modal subordinasi, yang terdiri atas : • Cadangan Revaluasi Aktiva Tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali Aktiva Tetap yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. • Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), yang diakui sebagai komponen modal pelengkap sebesar 1,25 % dari dari Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). • Modal Pinjaman, yaitu utang yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal dan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : o Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan, dipersamakan dengan modal dan telah dibayar penuh. Tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik, tanpa persetujuan Bank Indonesia. o Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah kerugian Bank melebihi laba yang ditahan dan cadangan-cadangan yang termasuk modal inti, meskipun bank belum dilikuidasi. o Pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila bank dalam keadaan rugi atau labanya tidak mendukung untuk membayar bunga tersebut. • Pinjaman Subordinasi, yakni pinjaman yang memenuhi syarat-syarat khusus secara tertulis, mendapat persetujuan dari Bank Indonesia, tidak dijamin oleh Bank yang bersangkutan, minimal berjangka waktu 5 tahun, pelunasan sebelum jatuh tempo harus melalui persetujuan Bank Indonesia serta saat pelunasan tersebut kondisi bank tetap sehat. Adapun fungsi permodalan bank, yaitu : • FUNGSI OPERATING, modal seyogyanya untuk membiayai aktiva tetap dan inventaris, yang bersifat permanen mengingat modal adalah salah satu sumber dana jangka panjang. • FUNGSI REGULATORY, permodalan bank harus memenuhi ketentuan yang dikeluarkan oleh otoritas moneter bertujuan untuk membatasi risiko yang mungkin timbul dari aktivitas bank. • FUNGSI PROTECTIVE, yakni modal berfungsi untuk melindungi atau sebagai bumper dalam menyerap kerugian deposan” Sumber : http://bankirnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=95:permodalan-bank&catid=73:akuntansi&Itemid

PENGERTIAN KLIRING

Kliring adalah suatu tata cara perhitungan hutang piutang dalam bentuk surat-surat dagang dan surat berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya dengan maksud agar penyelesaiannya mudah dan aman serta untuk memperlancar pembayaran giral. Giral adalah simpanan dari pihak ketiga yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan cek, surat perintah pembayaran lainnya atau pemindahbukuan. Lalu lintas giral adalah proses kegiatan bayar membayar dengan warkat/nota kliring, yang dilakukan dengan cara saling memperhitungkan antar bank, baik atas beban maupun untuk keuntungan nasabah yang bersangkutan. Warkat/nota kliring adalah alat atau sarana yang digunakan dalam lalu lintas giral, yaitu : • Cek • Bilyet giro • Wesel bank untuk transfer/wesel unjuk • Bukti penerimaan transfer • Nota kredit Syarat warkat yang dapat dikliringkan : • Bervaluta Rupiah • Bernilai nominal penuh • Telah jatuh tempo • Telah dibubuhi cap kliring Peserta Kliring • Peserta Langsung : Bank yang sudah tercatat sebagai peserta kliring dan dapat memperhitungkan warkat/notanya secara langsung dengan BI atau melalui PT Trans Warkat sebagai perantara. • Peserta tidak Langsung : Bank yang belum terdaftar sebagai peserta kliring akan tetapi mengikuti kegiatan kliring melalui bank yang telah terdaftar. Jenis – jenis Kliring 1. Kliring umum : sarana perhitungan warkat antar bank yang pelaksanaannya diatur oleh BI (Bank Indoensia). 2. Kliring lokal : sarana perhitungan warkat antar bank yang berada dalam satu wilayah kliring. 3. Kliring antar cabang / Interbranch clearing : sarana perhitungan warkat antar kantor cabang suatu bank peserta yang biasanya berada dalam satu wilayah kota. Sumber : http://mnurisya.blogspot.com/2011/10/pengertian-kliring_26.html

Pengertian Giro

Pendahuluan Kita sering mendengar orang melakukan transaksi mengunakan cek, bilyet giro. Pada kali ini tulisan ini akan membahas apayangdimaksud dengan giro. Serta hal apa yang bisakita lakukan bila menjadi nasabah giro Landasan Teori Pengertian giro menurut Undang-undang Perbankan nomor 10 tahun 1998 adalah simpanan/dana pihak ketiga, dimana penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan media yaitu cek (cheque), bilyet giro dan sarana perintah pembayaran lainnya. Pembahasan Giro adalah suatu istilah perbankan untuk suatu cara pembayaran yang hampir merupakan kebalikan dari sistem cek. Suatu cek diberikan kepada pihak penerima pembayaran (payee) yang menyimpannya di bank mereka, sedangkan giro diberikan oleh pihak pembayar (payer) ke banknya, yang selanjutnya akan mentransfer dana kepada bank pihak penerima, langsung ke akun mereka. Perbedaan tersebut termasuk jenis perbedaan sistem ‘dorong dan tarik’ (push and pull). Suatu cek adalah transaksi ‘tarik’: menunjukkan cek akan menyebabkan bank penerima pembayaran mencari dana ke bank sang pembayar yang jika tersedia akan menarik uang tersebut. Jika tidak tersedia, cek akan “terpental” dan dikembalikan dengan pesan bahwa dana tak mencukupi. Sebaliknya, giro adalah transaksi ‘dorong’: pembayar memerintahkan banknya untuk mengambil dana dari akun yang ada dan mengirimkannya ke bank penerima pembayaran sehingga penerima pembayaran dapat mengambil uang tersebut. Karenanya, suatu giro tidak dapat “terpental”, karena bank hanya akan memproses perintah jika pihak pembayar memiliki daya yang cukup untuk melakukan pembayaran tersebut. Namun ini juga berarti pihak pembayar tidak mendapatkan keuntungan dari “float”. Dengan menjadi nasabah Giro, Anda memperoleh kemudahan dalam melakukan transaksi keuangan, seperti : 1. Melakukan pembayaran dengan menggunakan Cek (Cheque). Cek adalah surat berharga atau alat transaksi pembayaran yang diterbitkan oleh bank sebagai pengganti uang tunai. Cek dikeluarkan oleh bank apabila Anda mempunyai rekening Giro. Cek Atas Nama (Order Cheque) adalah Cek yang mencantumkan nama penerima dana dan bank akan melakukan pembayarankepada nama yang tertera pada Cek tersebut.Pembayaran dilakukan paling cepat sesuai tanggal yang tertera pada Cek tersebut.Cek Atas Unjuk (Bearer Cheque) Adalah Cek yang tidak mencantumkan namapenerima dana dan bank akan melakukan pembayaran kepada siapa saja yang membawa Cek tersebut. Pembayaran dilakukan paling cepat sesuai tanggal yang tertera pada Cek tersebut. Cek Silang (Cross Cheque) adalah Cek Atas Nama dan/atau Cek Atas Unjuk yang diberi tanda garis menyilang pada ujung kiri atas warkat atau dapat juga diberi tanda garis menyilang sepanjang cek dari ujung kiri bawah ke ujung kanan atas. Cek silang tidak dapat diuangkan secara tunai, tetapi hanya dapat dimasukan ke dalam rekening penerima Cek. 2. Melakukan pembayaran dengan menggunakan Bilyet Giro. Bilyet Giro (BG) merupakan cara pembayaran yang berbeda dengan Cek, dimana penerima dana tidak dapat melakukan pencairan secara tunai, tetapi harus melalui pemindahbukuan ke rekening yang bersangkutan. Bilyet Giro akan berfungsi sama dengan Cek Silang. Kesimpulan Rekening Giro atau Current Account merupakan salah satu produk perbankan berupa simpanan dari nasabah perseorangan maupun badan usaha dalam Rupiah maupun mata uang asing yang penarikannya dapat dilakukan kapan saja selama jam kerja dengan menggunakan warkat Cek dan Bilyet Giro. Sumber : http://alukmalay.blogspot.com/2012/04/pengertian-giro.html

Pengertian Deposito

Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpanan dengan Bank . Deposito menurut undang-undang No. 10 tahun 1998 adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpanan dengan baik . Deposito Mudharabah adalah simpanan masyarakat di Bank syari’ah yang pengambilannya sesuai waktu yang telah ditetapkan oleh Bank syari’ah . Deposito Mudharabah adalah bentuk simpanan oleh nasabah kepada Bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada jangka waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian, jenis penyimpanan ini. Kepada penyimpan dana diberikan hak untuk memperoleh laba Bank sesuai dengan prosentase yang diperjanjikan, yang dihitung sesuai dengan peranan dananya dalam pembentukan laba Bank . Deposito Mudharabah adalah merupakan investasinya melalui simpanan pihak ketiga (perseorangan atau badan hukum) yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu (jatuh tempo) dengan mendapat bagi hasil . Deposito investasi Mudharabah adalah dana yang disimpan nasabah hanya bisa ditarik berdasarkan jangka waktu yang telah ditentukan, dengan bagi hasil keuntungan berdasarkan kesepakatan bersama . Jenis-jenis deposito Untuk mencairkan deposito yang dimiliki deposan dapat menggunakan bilyet deposito atau sertifikat deposito, dalam prakteknya terdapat paling tiga jenis deposito, yaitu deposito berjangka, sertifikat deposito dan deposito on call. Masing-masing jenis deposito memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dan khususnya deposito berjangka diterbitkan pula alam mata uang asing . Berikut ini jenis-jenis simpanan deposito yang ada di Indonesia saat ini : 1. Deposito berjangka Deposito berjangka (DB) merupakan deposito yang diterbitkan dengan jenis jangka waktu tertentu. Jangka waktu deposito berjangka biasanya berfariasi mulai dari 1, 2, 3, 6, 12, 18 sampai dengan 24 bulan. Deposito berjangka diterbitkan atas nama baik perorangan maupun lembaga, artinya di dalam bilyet deposito tercantum nama perorangan atau lembaga si pemilik deposito berjangka. Penarikan bunga deposito berjangka yang diterbitkan dalam valuta asing, biasanya diterbitkan oleh Bank devisa. Perhitungan, penerbitan umum. Penerbitan deposito berjangka dalam valas biasanya diterbitkan dalam valas yang kuat, seperti US dollar, Yen Jepang, DM Jerman atau mata uang yang kuat lainnya. 2. Sertifikat deposito Sama seperti halnya deposito berjangka sertifikat deposito diterbitkan atas unjuk dalam bentuk sertifikat serta dapat dipejual-belikan atau dipindah-tangankan kepada pihak lain. Perbedaan lain adalah pencairan bunga sertifikat deposito dapat dilakukan di muka baik tunai disamping setiap bulan atau jatuh tempo. Kemudian penerbitan nilai sertifikat deposito sudah dicetak dalam berbagai nominal dan biasanya dalam jumlah yang bulat. Sehingga, nasabah dapat membeli dalam lembaran yang bervariasi untuk jumlah yang diinginkan. 3. Deposito on Call Deposito on Call (DOC) merupakan deposito digunakan untuk deposan yang memiliki jumlah uang dalam jumlah uang dalam jumlah besar dan sementara waktu belum digunakan. Penerbitan deposito on Call memiliki jangka waktu minimal 7 hari dan paling lama kurang dari 1 bulan. DOC diterbitkan atas nama. Pencarian bunga dilakukan pada saat pencairan deposito on call. Namun, sebelumnya sudah memberitahukan Bank penerbit bahwa yang bersangkutan akan mencairkan DOC-nya. Besarnya bunga DOC biasanya dihitung perbulan dan untuk menentukan jumlah bunga yang diberlakukan terlebih dahulu dilakukan negosiasi antara nasabah dengan pihak Bank. Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2225858-pengertian-dan-jenis-deposito/#ixzz2EiLBRgDi

Pengertian Tabungan

Pendahuluan Peda era sekarang orang banyak yang mensisipkan penghasilanya untuk digunakan pada keperluan yang akan datang. Sehingga istilah tabungan sudah tidak asinglagi ditelinga kita. Pada tulisan saya akan membahas apa yang dimaksid dengan tabungan. Landasan teori Berdasarkan undang –undang nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud dengan tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak ditarik dengan cek, bilyet, giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Pembahasan Tabungan adalah pendapatan yang di sisipkan atau disisakan untuk tidak dikonsumsikan digunak di masa yang akan datang. Sedangkan menurut Undang-undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan /atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Definisi lain adalah Tabungan adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu. Tabungan yang diselenggarakan oleh bank ada empat macam yaitu: 1. Tabungan Pembangunan Nasional (Tabanas) Tabanas adalah bentuk tabungan yang tiddak terikat oleh jangka waktu dengan syarat penyetoran dan pengambilan, yang untuk pertamakalinya diatur tahun 1971. 2.Tabungan Ongkos Naik Haji (ONH), yaitu setoran ongkos naik haji atas nama calon jemaah haji untuk setiap musim haji yang bersangkutan. Besarnya ONH setoran-setoran dimuka berdasarkan prinsip diskonto untuk setiap musim haji, ditetapkan pertamakali dengan Keppres tahun 1969. 3.Tabungan Asuransi Berjangka (Taska), yaitu tabungan yang dikaitkan dengan asuransi jiwa, yang untuk pertamakalinya diatur pada tahun 1971. 4.Tabungan lainnya, yaitu tabungan selain Tabanas dan Taska, seperti tabungan masyarakat pada bank-bank lain yan bukan penyelenggara Tabanas dan Taska. Tujuan Menabung dibank adalah : 1. Penyisihan sebagian hasil pendapatan nasabah untuk dikumpulkan sebagai cadangan hari depan 2. Sebagai alat untuk melakukan transaksi bisnis atau usaha individu / kelompok Sarana Penarikan Tabungan : 1. Buku Tabungan 2. Slip penarikan 3. ATM (Anjungan Tunai Mandiri) 4. Sarana lainnya (Formulir Transfer, Internet Banking, Mobile Banking, dll) Faktor-faktor tingkat Tabungan 1. Tinggi rendahnya pendapatan masyarakat 2. Tinggi rendahnya suku bunga bank 3. adanya tingkat kepercayaan terhadap bank Kesimpulan Tabungan adalah pendapatan atau penghasilan yang sengaja untuk di sisipkan atau disisakan supaya tidak dikonsumsikan untuk keperluan di masa yang akan datang. Sumber : http://alukmalay.blogspot.com/2012/04/pengertian-tabungan.html

Return on Equity

Return on Equity adalah mungkin ukuran yang paling penting untuk menemukan yang baik, perusahaan dikelola dengan baik. Karena investasi adalah menempatkan uang Anda bekerja, itu adalah penting untuk mengetahui bagaimana uang Anda akan digunakan dan apakah akan digunakan secara efektif. Return on Equity memberikan indikasi yang baik tentang seberapa baik sebuah perusahaan akan menggunakan uang investasi anda untuk menghasilkan keuntungan. Akal sehat investor perlu dipersenjatai dengan konsep-konsep yang membantu untuk mengukur kualitas sebuah investasi. Salah satu konsep yang paling penting dalam bisnis investasi adalah "laba atas ekuitas" - (ROE). ROE memberi Anda salah satu yang terbaik dan paling tepat wawasan mengenai seberapa baik suatu perusahaan akan menggunakan uang Anda. The ROE dari sebuah saham menunjukkan berapa banyak keuntungan sebuah perusahaan telah menerima poin dibandingkan dengan jumlah total ekuitas pemegang saham yang ditemukan pada neraca. Ekuitas pemegang saham didefinisikan sebagai total aktiva dikurangi total kewajiban. Ekuitas adalah apa yang para pemegang saham sendiri. Ekuitas pemegang saham pada dasarnya merupakan aset yang telah diciptakan oleh sebuah bisnis 'laba ditahan dan pemilik modal disetor. Secara teori, sebuah bisnis yang menunjukkan laba atas ekuitas tinggi cenderung lebih mampu menghasilkan uang secara internal. Para pedoman umum, semakin tinggi perusahaan laba atas ekuitas dibandingkan dengan industri, semakin baik. Laba atas ekuitas ini terutama bermanfaat bagi investor akal sehat karena bisa membantunya memotong meliur PR dan menepuk-nepuk pernyataan perusahaan yang bergejolak oleh sebagian besar CEO dalam laporan tahunan masing-masing. Jadi, ketika mereka mencoba untuk melukis gambar yang indah dengan mengatakan bahwa Perusahaan A telah "mencapai rekor penghasilan" Anda bisa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai kesehatan perusahaan-perusahaan dengan melakukan perhitungan cepat dari laba atas ekuitas. Ini akan membantu Anda mengetahui apakah sebuah perusahaan yang sebenarnya menempatkan ekuitas untuk digunakan baik bagi para pemegang saham. Warren Buffett, salah satu investor yang paling sukses di dunia, yang digunakan untuk mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan setiap tahun adalah tugas yang mudah. Dia hanya menunjukkan yang sudah jelas. Perusahaan yang berhasil menghasilkan keuntungan. Jika manajemen perusahaan yang hanya akan lembaga kebijakan mempertahankan pendapatan dan memasukkannya ke dalam rekening tabungan buku tabungan sederhana yang menghasilkan kepentingan tahunan, mereka telah memiliki bahan-bahan yang akan memungkinkan mereka untuk merekam laporan penghasilan hanya untuk kepentingan mereka akan mendapatkan penghasilan dari . Pertanyaan meskipun adalah, apakah pemegang saham lebih baik dengan pendekatan ini? Apakah perusahaan akan menggunakan uang Anda dengan baik? Tidak sama sekali. Pemegang saham akan mendapatkan keuntungan lebih besar jika penghasilan yang dibayarkan atau diinvestasikan kembali demi pertumbuhan dan produksi. Hal ini jelas bahwa investor tidak boleh melihat kenaikan tahunan pendapatan per saham sebagai tanda keberhasilan perusahaan. Sebuah sosok laba atas ekuitas, di sisi lain, memperhitungkan laba ditahan dari tahun-tahun sebelumnya. Ini menunjukkan kepada mereka secara efektif modal sedang diinvestasikan kembali. Dengan demikian, pada akhirnya menjadi barometer yang jauh lebih baik dari kemampuan manajemen dalam menangani tanggung jawab fiskal dibandingkan dengan yang lebih umum digunakan pendapatan tahunan per saham. Menghitung laba atas ekuitas dapat sebagai rinci yang Anda suka. Sebagian besar situs keuangan menghitung laba atas ekuitas umum dengan mengambil pendapatan yang dibuat tersedia untuk pemegang saham untuk dua belas bulan terakhir dan membaginya dengan rata-rata ekuitas pemegang saham untuk lima kuartal terakhir Sumber : http://www.infosahamidx.com/index.php?option=com_content&view=article&id=48:-return-on-equity-roe-apa-itu-&catid=15:fundamental-analysis

Pengertian Non Performing Loan (NPL)

Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah merupakan salah satu indikator kunci untuk menilai kinerja fungsi bank. Salah satu fungsi bank adalah sebagai lembaga intermediary atau penghubung antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana. Bank Indonesia (BI) melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) menetapkan bahwa rasio kredit bermasalah (NPL) adalah sebesar 5%. Rumus perhitungan NPL adalah sebagai berikut: Rasio NPL = (Total NPL / Total Kredit )x 100% Misalnya suatu bank mengalami kredit bermasalah sebesar 50 dengan total kredit sebesar 1000, sehingga rasio NPL bank tersebut adalah 5% (50 / 1000 = 0.05). Beberapa Hal Yang Mempengaruhi NPL Suatu Perbankan : Menurut pendapat penulis terdapat beberapa hal yang mempengaruhi atau dapat menyebabkan naik turunnya NPL suatu bank, diantaranya dalah sebagai berikut : a. Kemauan atau itikad baik debitur : Kemampuan debitur dari sisi financial untuk melunasi pokok dan bunga pinjaman tidak akan ada artinya tanpa kemauan dan itikad baik dari debitur itu sendiri. b. Kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia : Kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi tinggi rendahnya NPL suatu perbankan, misalnya kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM akan menyebabkan perusahaan yang banyak menggunakan BBM dalam kegiatan produksinya akan membutuhkan dana tambahan yang diambil dari laba yang dianggarkan untuk pembayaran cicilan utang untuk memenuhi biaya produksi yang tinggi, sehingga perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan dalam membayar utang-utangnya kepada bank. Demikian juga halnya dengan PBI, peraturan-peraturan Bank Indonesia mempunyai pengaruh lansung maupun tidak lansung terhadap NPL suatu bank. Misalnya BI menaikan BI Rate yang akan menyebabkan suku bunga kredit ikut naik, dengan sendirinya kemampuan debitur dalam melunasi pokok dan bunga pinjaman akan berkurang. c. Kondisi perekonomian : Kondisi perekonomian mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemampuan debitur dalam melunasi utang-utangnya. Indikator-indikator ekonomi makro yang mempunyai pengaruh terhadap NPL diantaranya adalah sebagai berikut: Inflasi : Inflasi adalah kenaikan harga secara menyeluruh dan terus menerus. Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan kemampuan debitur untuk melunasi utang-utangnya berkurang. Kurs rupiah : Kurs rupiah mempunayai pengaruh juga terhadap NPL suatu bank karena aktivitas debitur perbankan tidak hanya bersifat nasioanal tetapi juga internasional Sumber : http://enjangkhaizan.blogspot.com/2011/06/pengertian-non-performing-loan-npl.html

Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

Untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank melakukan kegiatan operasinya. Rasio ini membandingkan antara jumlah biaya operasional dan pendapatan operasional bank. Biaya operasional meliputi biaya bunga dan biaya operasional lainnya. Sedangkan pendapatan operasional meliputi pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya. Mengingat kegiatan utama bank yang prinsipnya bertindak sebagai perantara, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana (misalnya dana masyarakat), maka biaya dan pendapatan operasional bank didominasi oleh biaya bunga dan hasil bunga. Biaya Operasional BOPO = x 100% Pendapatan Operasional Menurut Lukman Dendawijaya (2005:111), berikut ini adalah komponen pendapatan dan biaya operasional: Pendapatan Operasional Pendapatan operasional terdiri atas semua pendapatan yang merupakan hasil langsung dari kegiatan usaha bank yang benar-benar telah diterima. Pendapatan operasional bank secara terperinci adalah sebagai berikut: 1. Hasil Bunga Yang dimasukkan ke pos ini adalah pendapatan dari hasil bunga (dalam rupiah), baik dari pinjaman yang diberikan maupun dari penanaman-penanaman yang dilakukan oleh bank, seperti giro, simpanan berjangka, obligasi, dan surat pengakuan utang lainnya. 2. Provisi dan Komisi Yang dimasukkan ke pos ini adalah provisi dan komisi yang dipungut atau diterima oleh bank, dari berbagai kegiatan yang dilakukan, seperti provisi kredit, provisi transfer, komisi pembelian/penjualan efek-efek, dan lainnya. Provisi adalah sumber pendapatan bank yang akan diterima dan diakui sebagai pendapatan pada saat kredit disetujui oleh bank. Provisi merupakan prosentase tertentu (biasanya antara 0,5 – 1 persen dari limit kredit) yang harus dibayar oleh calon peminjam (dibayar sebelum kredit dicairkan). Komisi adalah pendapatan bank yang merupakan beban yang diperhitungkan kepada para nasabah bank yang menggunakan jasa bank. Komisi juga lazimnya dibukukan langsung sebagai pendapatan pada saat bank menjual jasa kepada para nasabahnya. (Lapoliwa, 2000:268) 3. Pendapatan atas Transaksi Valuta Asing Lainnya Yang dimasukkan ke pos ini adalah keuntungan yang diperoleh bank dari berbagai transaksi devisa, misalnya selisih kurs pembelian/penjualan valuta asing, selisih kurs karena konversi provisi, komisi, dan bunga yang diterima dari bank-bank di luar negeri. Pendapatan yang timbul dari transaksi valuta asing biasanya berasal dari selisih kurs. Selisih kurs ini akan dimasukkan kedalam pos pendapatan dalam laporan laba rugi. 4. Pendapatan Lainnya Yang dimasukkan ke pos ini adalah pendapatan lain yang merupakan hasil langsung dari kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan operasional bank yang tidak termasuk ke dalam rekening pendapatan di atas, misalnya deviden yang diterima dari saham yang dimiliki, pendapatan transaksi valuta asing, laba rugi penjualan surat berharga pasar modal, dan lain-lain. Beban Operasional Yang dimasukkan ke pos beban operasional ini adalah semua biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha bank yang diperinci sebagai berikut: 1. Beban Bunga Beban bunga adalah biaya yang dikeluarkan oleh bank untuk diberikan kepada nasabah penabung dan nasabah deposan yang besarnya ditentukan oleh bank dan diberikan kepada nasabah dalam satuan waktu tertentu, misalnya harian atau bulanan. Biaya ini yang paling besar porsinya terhadap biaya bank secara keseluruhan. Biaya ini harus diantisispasikan dalam oleh bank pada penutupan tahun buku atau pada tanggal laporan. 2. Beban (Pendapatan) Penghapusan Aktiva Produktif Pos ini berisi penyusutan/amortisasi/penghapusan yang dilakukan bank terhadap aktiva produktif bank. Aktiva produktif (Earning assets) adalah semua aktiva dalam rupiah dan valuta asing yang dimiliki bank dengan maksud untuk memperoleh penghasilan sesuai dengan fungsinya (Lukman Dendawijaya, 2005:61). Pengelolaan dalam aktiva produktif merupakan sumber pendapatan bank yang digunakan untuk membiayai keseluruhan biaya operasional bank termasuk biaya bunga, biaya tenaga kerja, dan biaya operasional lainnya. Yang tergolong dalam aktiva produktif yaitu : a. Kredit yang diberikan b. Surat berharga c. Penempatan dana antar bank d. Tagihan akseptasi dan transaksi derivatif e. Penyertaan f. Lainnnya 3. Beban Estimasi Kerugian Komitmen & Kontijensi Pos ini berisi penyusustan amortisasi/penghapusan atas transaksi ekening administratif. Komitmen adalah kontrak perjanjian yang tidak dapat dibatalkan (Irrevocable) secara sepihak, dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama telah dipenuhi (Lapoliwa 2000 : 238). Kontijensi adalah suatu keadaaan yang memungkinkan terjadinya tagihan atau kewajiban di masa yang akan datang. 4. Beban Operasional Lainnya Pos ini berisi semua pengeluaran yang dilakukan bank untuk mendukung kegiatan operasionalnya yaitu berupa: a. Beban Administrasi dan Umum, terdiri dari: 1. Premi asuransi lainnya 2. Penelitian dan pengembangan 3. Sewa dan Promosi 4. Pajak (tidak termasuk pajak penghasilan) 5. Barang dan jasa 6. Penyusutan/amortisasi/penghapusan aktiva tetap dan inventaris dan amortisasi yang ditangguhkan. b. Beban Personalia, terdiri dari: 1. Gaji dan upah 2. Honorarium komisaris/dewan pengawas 3. Pendidikan dan pelatihan c. Beban Penurunan Nilai Surat Berharga d. Beban Transaksi Valas e. Beban Lainnya : komisi/provisi dari transaksi derivatif, premi asuransi kredit, dan penjaminan dana pihak ketiga. Pendapatan Non Operasional Pendapatan non operasional adalah pendapatan yang diperoleh bukan dari kegiatan operasional (kegiatan pokok) bank. Pendapatan ini harus diakui sebagai pendapatan pada periode berjalan. Pos ini terdiri dari: a. Sewa fasilitas gedung yang dimiliki oleh bank b. Keuntungan penjualan aktiva tetap dan inventaris c. Selisih kurs d. Hasil ofsetting kredit rekening antar kantor dan bunga antar kantor Beban Non Operasional Beban non operasional adalah pengeluaran atas beban biaya bank yang tidak lazim dalam kegiatan usaha bank. Pos ini terdiri dari : a. Denda/sanksi b. Selisih kurs c. Hasil ofsetting debet rekening antar kantor d. Lainnya Semakin kecil rasio ini maka semakin efektif kemampuan bank dalam mengelola pendapatan dan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan operasional bank. Sumber : http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/05/biaya-operasional-pendapatan-operasional-bopo/

Contoh Paragraph Generalisasi, Analogi, Sebab Akibat ( Kasualitas )

Contoh Paragraph Generalisasi, Analogi, Sebab Akibat ( Kasualitas ) Contoh Generalisasi Bensin merupakan jenis bahan bakar apabilaterkena api akan mudah terbakar. Demikian jugaminyak tanah, termasuk bahan bakar yang mudahterbakar. Solar pun demikian pula halnya, bilaterkena api akan mudah terbakar. Berdasarkanpernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasemua jenis bahan bakar apabila terkena api akanmudah terbakar. Contoh Analogi Seseorang yang menuntut ilmu sama halnya denganmendaki gunung. Sewaktu mendaki, ada sajarintangan seperti jalan yang licin yang membuatseseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukardilalui. Dapatkah seseorang melaluinya ? Begitu pulabila menuntut ilmu, seseorang akan mengalamirintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitanmemahami pelajaran, dan sebagainya. Apakah Diasanggup melaluinya ? Jadi, menuntut ilmu sama halnyadengan mendaki gunung yaitu banyak rintangan untukmencapai puncaknya.. Contoh Sebab Akibat (kasualitas) Melihat sepintas lalu masyarakat kota bandar kitaterkesan oleh kesibukan-kesibukan kerja dan lalulintas sehari-hari. Hubungan dagang denganrelasi-relasi dari luar daerah pulau ataupun asingyang pembesarannya harus selekas mungkindiadakan berhubung terikatnya perahu layarpada angin musim. Pemuatan barang-barangekspor dan pembongkaran barangbarangimpor, semuanya itu tidak memungkinkan orangbekerja pelan-pelan seperti menantimenguningnya padi di musim panen sumber : http://inug-nugi.blogspot.com/2011/12/contoh-paragraph-generalisasi-analogi.html

Rabu, 31 Oktober 2012

Akuntansi Perbankan DEFINISI AKUNTANSI Akuntansi diartikan sebagai seni pencatatan, pengklasifikasian dan peng ikhtisaran dengan cara yang sepatutnya dan dalam satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidak-tidaknya sebagian mempunyai sifat keuangan serta penginterpretasian hasil dari pencatatan tersebut. TUJUAN LAPORAN BANK Tujuan adanya laporan keuangan adalah Memberikan informasi keuangan yang dapat: Dipercaya mengenai posisi keuangan perusahan. Dipercaya mengenai hasil usaha perusahaan selama periode akuntansi tertentu. Membantu oihak yag berkepentingan untuk menilai atau menginterpretasikan kondisi dan potensi perusahaan disesuaikan dengan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan yang bersangkutan. Bentuk laporan yang dihasilkan dalam perusahaan termasuk bank terdiri dari: 1. Laporan neraca 2. laporan perhitungan laba rugi 3. Laporan perubahan posisi keuangan Bagi bank ada laporan tambahan untuk menyimpan data yang belum mempengaruhi neraca, namun sudah harus diperhitungkan oleh pihak Bank, yaitu: Laporan Rekening Administrasi PROSES AKUNTANSI BANK Pengertian, Definisi dan Persamaan Akuntansi Akuntansi merupakan bentuk penyajian informasi yang berasal dari transaksi dan hasilnya (output) adalah laporan keuangan. Ditilik dari manfaat akuntansi ada dua kepentingan yaitu kepentingan internal dan kepentingan eksternal. Terdiri dari beberapa tahap penyelesaian, yaitu: 1. jurnal umum 2. buku besar 3. neraca saldo 4. penyesuaian dan kertas kerja 5. laporan laba rugi 6. neraca 7. laporan perubahan keuangan 8. penutupan buku Penjelasan Laporan Keuangan Neraca merupakan salah satu hasil proses akuntansi yang menunjukkan posisi dari komposisi kekayaan, kewajiban serta modal perusahaan. Pengertian akuntansi meliputi pengertian yang mencakup proses akuntansi yang tidak dapat dilakukan tanpa keruntutan proses. Produk akuntansi berupa laporan keuangan meliputi dua laporan yaitu neraca/balance sheet dan laporan rugi-laba atau loss and income statement. Dari kedua laporan tersebut dapat disusun laporan perubahan modal secara periodik. Untuk balance sheet menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan perkiraan riil antara lain asset yang terdiri dari current assets, fixed assets, dan liabilities serta capital. Sedangkan laporan rugi-laba disusun secara periodik yang menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan pendapatan, harga pokok penjualan, biaya pemasaran, biaya umum dan pendapatan bersih. Neraca atau balance sheet merupakan laporan keuangan yang dibuat secara berkala dan menunjukkan posisi keuangan yaitu keadaaan harta, utang dan modal pada suatu periodik. Judul neraca menyebutkan nama perusahaan, perkataan neraca, dan tanggal neraca. Dua bentuk neraca menunjukkan bagaimana modal akhir dihitung, yaitu dengan memperhatikan modal awal, tambahan modal, laba (rugi) bersih dan pengambilan untuk pribadi (prive). Neraca secara garis besar terdiri dari pengembangan sistem pencatatan persamaan- akuntansi atau biasa disebut accounting equations. Berkembangnya sistem pencatatan ini jika kita kaitkan pada waktu mempelajari dasar-dasar akuntansi maka data trial balance yang berisi data-data perkiraan riil merupakan bahan dasar disusunnya neraca. Tingkat pemahaman selanjutnya yang harus dikembangkan dan didalami adalah pemahaman tentang latar belakang masing-masing komponen dan unsur neraca termasuk dalam atau bernaung pada heading yang sama. Penempatan komponen dan unsur-unsur yang sama yang tidak tepat akan berakibat fatal. Kefatalan itu antara lain: neraca tidak menjadi informatif, susunan yang dihasilkan tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan sesuai dengan prinsip-prinsip penulisan neraca, pihak-pihak yang berkepentingan tidak dapat memanfaafkan pendalaman pada neraca. Begitu pula pemahaman pada bagian modul berikutnya yaitu modul 2 tentang materi pokok laporan keuangan income statement. Menempatkan secara tepat unsur-unsur neraca pada headings yang tepat berarti melaksanakan prinsip-prinsip penulisan laporan keuangan neraca. Hasil yang didapat bahwa neraca dapat digunakan sebagaimana mestinya. Penyusunan neraca yang benar akan dapat dimanfaatkan untuk bahan pengambilan keputusan pimpinan, pemegang saham. Jurnal Jurnal merupakan suatu basis pencatatan dan mampu menjadi sumber informasi keuangan untuk langkah-langkah proses akuntansi maupun untuk di-jadikan bahan sumber informasi apabila terjadi kesalahan-kesalahan di belakang hari menyangkut segala informasi akuntansi. Siklus Akuntansi Setelah proses pencatatan maka langkah selanjutnya dalam penyelesaian pekerjaan siklus akuntansi yang nantinya menghasilkan laporan keuangan meliputi langkah-langkah sebagai berikut: Buku Besar Buku besar merupakan himpunan dari seluruh perkiraan atau rekening yang ditimbulkan oleh transaksi-transaksi yang timbul dalam perusahaan. Data dalam buku besar bisa dilakukan koreksi silang dengan jurnal selain hal tersebut data dari himpunan perkiraan buku besar merupakan sumber informasi yang paling pokok untuk mengetahui perkiraan-perkiraan riil maupun nominal yang ditimbulkan maupun selama satu periode. Saldo-saldo perkiraan buku besar tersebut merupakan bahan penyusunan neraca saldo atau Trial Balance. Langkah-langkah : 1. Menyusun Neraca Saldo, yaitu mengikhtisarikan saldo debit atau kredit rekening- 2. menyusun data-data untuk adjusting, yaitu mengumpulkan dan memper- 3.Neraca Lajur, yaitu melakukan penyesuaian data-data dalam neraca saldo dengan 4. Menyusun Laporan Keuangan, yaitu melalui data-data yang terdapat di dalam 5.Menyediakan dan menutup rekening-rekening, yaitu mencatat pos-pos 6.Menyesuaikan kembali Neraca Saldo setelah penutupan, yaitu. untuk mengecek 7.Menyesuaikan kembali rekening-rekening, yaitu membuat jurnal penyesuaian Neraca Saldo Neraca Saldo menjumlahkan seluruh transaksi yang terdapat pada deber dan kredit, pada bagian ini harus seimbang antara keduanya. Neraca Saldo terbagi atas dua, Neraca Saldo sebelum disesuaikan dan Neraca Saldo yang telah disesuaikan. Penyesuaian ini agar dapat dijabarkan menurut tahap dalam siklus akuntansi. Penyesuaian dan Kertas Kerja Setiap perkiraan yang ada di laporan keuangan menunjukkan nilai yang seharusnya disusun ke dalam jurnal penyesuaian pada akhir tahun, fungsi dari jurnal ini adalah : 1. koreksi kesalahan 2. pemindahan 3. pencatatan yang masih harus diterima 4. pencatatan yang diterima lebih dahulu 5. pencatatan penyusutan 6. sebagai pencatatan pembukuan Laporan laba Rugi Bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan berdasarkan pada suatu periode akuntansi dari penjabaran unsur pendapatan dan biaya – biaya dalam perusahaan sehingga menghasilkan suatu laba ataupun rugi. Neraca Bagian dari laporan keuangan suatu entitas yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan entitas tersebut pada akhir periode tersebut. Laporan Perubahan Keuangan Laporan yang menunjukkan perubahan untuk periode tertentu, mungkin satu bulan atau satu tahun. Melalui laporan perubahan modal dapat diketahui sebab – sebab perubahan modal selama periode tertentu. • Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa Laporan arus kas atau Laporan arus dana • Catatan dan laporan keuangan perusahaan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah laporan aktiva, kewajiban,dan ekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinereja dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban. Bisa saja memanfaatkan jasa laporan keuangan (jasa analisa keuangan ) maupun akuntan publik. Laporan posisi keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan dalam berbagai unsur neraca. Selain itu juga biasanya laporan keuangan juga be analisais keuangan selama setahun. Sumber : http://nithnietha.wordpress.com/2011/10/30/akuntansi-perbankan/
Akuntansi Pemerintahan: Laporan Keuangan pemerintahan Salah satu tuntutan reformasi tahun 1998 adalah mengharuskan adanya reformasi di bidang keuangan pemerintahan. Reformasi bidang keuangan merupakan tuntutan publik agar pengelolaan keuangan pemerintah mengacu pada clean governance, transparan dan akuntabilitas publik yang bisa di pertanggungjawabkan, sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban pelaksanaan pemerintahan yang sesuai dengan standart akuntansi pemerintahan yang berlaku umum. Sejalan dengan reformasi keuangan pemerintahan, pada tahun 2005 telah diterbitkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) melalui PP. No. 24 tahun 2005, yang merupakan SAP pertama yang di miliki oleh Pemerintah Indonesia. Kedudukan Standart Akuntansi Pemerintahan (SAP) Kedudukan SAP dalam Sistem Akuntansi Pemerintahan : 1. Standar Akuntansi Pemerintahan adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. 2. Sistem Akuntansi Pemerintahan adalah serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran dan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pemerintah. 3. Pemerintah Pemerintahan pusat Maupun Daerah menyusun sistem akuntansi pemerintahan yang mengacu pada SAP. Entitas Pelaporan Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih unit pemerintahan yang secara ketentuan perundang-undangan wajib menyampaikan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan, adapun entitas pelaporan terdiri dari: 1. pemerintahan Pusat 2. pemerintahan Daerah 3. Satuan organisasi di lingkungan pemerintah pusat/daerah atau organisasi lainnya, jika menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib menyajikan laporan keuangan. Komponen laporan Keuangan Entitas Pelaporan yang secara peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk menyampaikan pertanggungjawab, harus menyusun laporan keuangan yang terdiri dari: 1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA) 2. Neraca 3. Laporan Arus Kas (LAK) 4. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) Disamping laporan keuangan pokok tersebut diatas entitas pelaporan diperkenankan juga untuk menyajikan Laboran Kinerja keuangan dan laboran Perubahan Ekuitas. Tujuan Pelaporan Keuangan Laporan Keuangan disusun untuk informasi keuangan yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan dalam satu periode waktu tertentu. laporan Keuangan digunakan untuk mebandingkan realisasi Pendapatan, belanja, transfer dan pembiayaan dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan. Peranan Pelaporan Keuangan Pemerintahan Entitas Pelaporan menyajikan Laporan Keuangan dalam satu periode pelaporan secara sitematis dan terstruktur, sebagai sarana untuk kepentingan: 1. Akuntabilitas untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pelaksanaan kebijakan sumber daya dalam mencapai tujuan 2. Manajemen untuk memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan dan pengendalian atas aset, kewajiban dan ekuitas dana pemerintah 3. Transparasi untuk memberikan informasi keuangan yang terbuka, jujur, menyeluruh kepada stakeholders 4. Keseimbangan antargenerasi untuk memberikan informasi mengenai kecukupan penerimaan pemerintah untuk membiayai seluruh pengeluaran, dan apakah generasi y.a.d ikut menanggung beban pengeluaran tersebut Sumber : http://blog.stie-mce.ac.id/kadarusman/2011/09/20/akuntansi-pemerintahan-laporan-keuangan-pemerintahan/
RUANG LINGKUP AKUNTANSI MANAJEMEN SEBAGAI INFORMASI PENDAHULUAN Akuntansi Manajemen Adalah proses pengidentifikasi, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi/keuangan, untuk memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi manajemen yang menggunakan informasi tersebut di mana titik sentralnya untuk pihak-pihak di dalam organisasi/perusahaan. Contoh : • Kalkulasi biaya produk. • Kalkulasi biaya suatu aktivitas. • Kalkulasi biaya suatu department. Sistem Pelaporan Dengan Umpan Balik = Umumnya Personil Non Akuntansi. = Umumnya Personil Akuntansi. = Pengawasan Bagian Akuntansi. Fungsi Akuntansi Dalam Organisasi Dipandang dari tugas, fungsi-fungsi yang ada dalam organisasi dibagi dua kelompok, yaitu : 1. Fungsi Garis (Link Manager) Adalah para pejabat/pegawai atau bagian tertentu dalam suatu organisasi yang mempunyai tugas langsung berhubungan dengan pencapaian tujuan organisasi/perusahaan. Contoh : Para manajemen lini seperti : • Manajer produksi Sedan. • Manajer Prtoduksi Motor • Manajer Produksi Bus 2. Fungsi Staf Adalah pegawai atau bagian yang mempunyai tugas tidak langsung dalam mencapai tujuan organisasi/perusahaan, lebih menekankan pemberian jasa konsultasi, pelayanan dan informasi kepada staf fungsi garis. Contoh : Eksekutif Yang Mengurus Hubungan Dengan Pemerintah Ruang Lingkup Manajemen 1. Organisasi dan Tujuan Organisasi Organisasi adalah sekelompok orang yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan. Contoh :  Panitia 17 Agustus  Organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat  PT Indofood  Departemen Keuangan 2. Strategi Adalah pemilihan alternatif untuk mencapai tujuan bagi perusahaan. Satu set strategi yang perlu dijalankan bagi organisasi yang bertujuan mendapatkan laba, yaitu : a. Memilih produk/jasa apa yang hendak dijual. b. Bagaimana membuat produk/jasa. c. Bagaimana memasarkannya. 3. Struktur Organisasi Adalah gambar tentang kelompok-kelompok kerja atau tempat-tempat pimpinan. Serta penjelasan mengenai tugas, tanggung jawab dan wewenang. Fungsi Manajemen 1. Planning Adalah keputusan tentang apa yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang untuk membantu perusahaan dalam mencapai tujuan. 2. Coordinating Adalah koordinasi dalam melaksanakan planning/perencanaan yang telah ditetapkan, supaya bisa berjalan seperti yang diharapkan. 3. Directing Adalah pengawasan dari pelaksanaan planning pada saat planning tersebut dijalankan, di sini termasuk pengarahan dari orang-orang yang menjalankan planning tersebut 4. Controlling Adalah pengawasan dari hasil pelaksanaan planning yang biasanya dijalankan dengan membandingkan antara planning dengan pelaksanaan sesungguhnya. JENIS-JENIS INFORMASI AKUNTANSI SERTA PERBEDAAN AKUNTANSI MANAJEMEN DAN AKUNTANSI KEUANGAN Jenis-jenis Informasi Dalam Perusahaan Informasi Adalah hasil/output pengolahan data yang terorganisir dan berguna bagi orang yang menerimanya. Informasi dibutuhkan manusia untuk mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan Gambar jenis-jenis Informasi dalam Perusahaan Keterangan :  Informasi Kualitatif Contoh : Telah dibangun realestate disebelah selatan Jakarta  Informasi Kuantitatif Contoh :Telah dibangun 30.000 unit rumah di sebelah timur Jakarta  Informasi Akuntansi Contoh :Keuntungan Setelah Pajak PT Wanodya Rp.200 milyar  Informasi Non Akuntansi Contoh : 400 orang karyawan PT Tata keracunan makanan  Informasi Operasi Contoh : Jumlah Bahan baku yang digunakan 200 lembar Kayu Lapis  Informasi Laporan Keuangan Contoh : Neraca , Rugi Laba, Laporan Laba ditahan, Laporan ARus Kas dll.  Informasi Akuntansi Manajemen Contoh : Anggaran, Laporan Biaya Produksi, Laporan pendukung pemilihan alternatif. Jenis-jenis Informasi Akuntansi Untuk Manajemen 1. Akuntansi Biaya Penuh (Full Cost Accounting) Ialah jumlah seluruh biaya langsung yang berkenaan dengan item tersebut ditambah bagian yang layak dibebankan pada item tersebut dari biaya tidak langsung. Full Cost bisa berbentuk : : a. Biaya Produksi Berdasarkan Full Costing + Biaya Pemasaranl + Biaya Administrasi b. Biaya Produksi berdasarkan Variable Costing + Biaya Pemasaran Variabel + Biaya Administrasi Variabel + Biaya OHP Tetap + Biaya Pemasaran Tetap + Biaya Administrasi Tetap. c. Unit Level Activity Cost + Batch Level Activity Cost + Product Level Aktivity Cost + Facility Level Activity Cost 2. Akuntansi Biaya Diferensial (Differensial Accounting) Ialah informasi keuangan yang akan digunakan dalam membantu untuk menentukan alternatif mana yang dipilih, dimana biaya-biaya yang berbeda antara satu set kondisi/alternatif yang satu dengan kondisi yang lain dan merupakan biaya yang akan datang Contoh : • Informasi-informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan membeli atau membuat • Informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan menjual atau memproses lebih lanjut 3. Akuntansi Pertanggung jawaban (Responsibility Accounting) Ialah informasi keuangan dengan tujuan untuk pengendalian biaya, dimana setiap pusat pertanggungjawaban yang dipimpin seorang manajer (pimpinan) bertanggung jawab atas pelaksanaan perencanaan yang telah dibuat. Contoh : • Informasi menganai jumlah biay yang telah dikeluarkan dari suatu departemen/Divisi • Informasi mengani Kentungan yang diperoleh Kantor Cabang di Jakarta Perbedaan Akuntansi Manajemen Dengan Akuntansi Keuangan 1. Tidak mempunyai struktur (Formula) tunggal. 2. Tidak diatur oleh prinsip akuntansi yang diterima umum 3. Lebih bebas penyajiannya 4. Termasuk informasi non keuangan. 5. Lebih ditekankan untuk masa yang akan datang. 6. Memperhatikan bagian-bagian lebih penting dari keseluruhan. 7. Kurang menekankan pada kepastian. 8. Bukan penilaian terakhir. : Jenis-jenis Laporan Akuntansi 1. Laporan untuk manajemen. 2. Laporan untuk perhitungan pajak. 3. Laporan Khusus 4. Laporan keuangan yang diaudit. Sumber ; http://repository.binus.ac.id
Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang dan Jasa Secara umum pengertian siklus akuntansi adalah proses penyediaan informasi keuangan yang meliputi tahap pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan tahap penyusunan laporan keuangan berdasarkan tahapan-tahapan penyusunan laporan keuangan. Laporan keungan adalah sebuah bentuk penyampaian informasi keuangan kepada pemakai informasi dalam bentuk debit dan kredit agar mudah dipahami, relevan, andal, dan dapat diperbandingkan Dalam ilmu akuntansi, secara garis besar siklus akuntansi dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu Siklus akuntansi perusahaan jasa dan siklus akuntansi perusahaan dagang. Terdapat perbedaan cukup signifikan antara kedua siklus akuntansi tersebut. Untuk memahami lebih lanjut tentang perbedaan bentuk siklus akuntansi perusahaan dagang dengan siklus akuntansi perusahaan jasa, dapat dilihat pada informasi berikut: Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa Secara umum bentuk siklus akuntansi perusahaan jasa meliputi: 1. Pembuatan bukti transaksi 2. Membuat jurnal/buku harian atas transaksi yang terjadi sesuai berdasarkan tanggal transaksi 3. Pemindahbukuan dari jurnal ke buku besar (pembuatan buku besar) 4. Membuat ayat jurnal penyesuaian 5. Pembuatan kertas kerja 6. Menyusun laporan keungan 7. Membuat jurnal penutup 8. Penutupan buku besar 9. Neraca sisa/saldo setelah penutupan 10. Membuat jurnal pembalik Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang Secara umum bentuk siklus akuntansi perusahaan dagang adalah sebagai berikut: 1. Tahap Pencatatan 1.1 Transaksi/Bukti transaksi 1.2 Mencatat transaksi ke dalam: - Jurnal Umum - Jurnal Khusus 1. Jurnal penerimaan kas 2. Jurnal pengeluaran kas 3. Jurnal pembelian 4. Jurnal Penjualan - Buku Besar Pembantu 1. Piutang usaha 2. Hutang usaha 3. Persediaan 1.3 Pemindahbukuan ke Buku Besar 2. Tahap Pengiktisaran 2.1 Membuat Neraca Sisa 2.2 Membuat Jurnal Penyesuaian 2.3 Membuat Kertas Kerja 3. Tahap Pelaporan 3.1 Perhitungan rugi laba 3.2 Perubahan ekuitas 3.3 Neraca 2.4 Jurnal penutup 2.4 Menutup buku besar 2.6 Neraca saldo setelah penutupan 2.7 Jurnal Pembalik Setelah mengetahui perbedaan siklus akuntansi perusahaan barang dan siklus akuntansi perusahaan jasa, ketahui pula beberapa pengertian akuntansi dari beberapa ahli yang menjadi rujukan defenisi akuntansi internasional Sumber ; http://ulatmedia.blogspot.com/2012/06/siklus-akuntansi-perusahaan-dagang-dan.html
HUTANG JANGKA PENDEK ( HUTANG LANCAR ) PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK HUTANG 1. Untuk dapat dikatakan hutang, kriteria yang harus dipenuhi: 2. Kewajiban itu ada dan merupakan transaksi di masa lalu 3. Ada kewajiban untuk menyertakan aktiva yang dapat diterima oleh yang bersangkutan di masa yang akan datang 4. Kewajiban itu dapat diukur / dinyatakan dalam satuan mata uang dengan jumlah yang pasti atau dapat ditaksir jumlahnya 5. Kreditur dan tanggal jatuh tempo dapat diketahui atau ditentukan 6. Tidak ada hak untuk membatalkan atau melepaskan diri dari hutang tersebut HUTANG LANCAR Hutang lancar adalah kewajiban-kewajiban yang akan diselesaikan pembayarannya dengan menggunakan sumber-sumber ekonomi yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar atau dengan menciptakan utang yang baru Penggolongan utang lancar : a) Hutang yang jumlahnya dapat ditentukan secara pasti b) Hutang yang jumlahnya ditaksir c) Hutang bersyarat A. HUTANG YANG JUMLAHNYA DAPAT DITENTUKAN SECARA PASTI Meliputi semua kewajiban untuk membayar yang jumlah dan tanggal jatuh tempo sudaj pasti. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah : Hutang Dagang Yaitu hutang yang timbul dari kegiatan ekonomi perusahaan yang berulang-ulang. Hutang dagang terjadi karena perbedaan waktu yang timbul antara penyerahan barang dan jasa dengan pembayarannya(disebut dengan jangka waktu kredit) yang biasanya dinyatakan dengan syarat pembayaran seperti 2/10, n/30. Pada dasarnya hutang dicatat pada saat terjadi penyerahan hak milik dari penjual kepada pembeli. Tetapi dalam praktek, hutang dicatat pada saat faktur diterima atau barang-barang diserahkan dengan alasan kepraktisan. Wesel Bayar Adalah hutang yang didukung dengan surat pengakuan hutang atau surat pernyataan kesanggupan membayar. Yang termasuk dalam hutang wesel : a) Wesel yang dibuat dalam rangka kegiatan normal perusahaan Adakalanya pemasok menghendaki adanya janji tertulis atas timbulnya utang, sehingga perlu diterbitkan wesel. Jika terdapat bunga yang harus diperhitungkan, pencatatan harus dipisahkan antara wesel bayar sebagai utang dan unsur bunga sebagai biaya. b) Pinjaman yang disertai wesel Adalah hutang yang timbul dari transaksi pinjaman antara perusahaan dengan bank atau lembaga-lembaga keuangan non bank. Jika dalam pinjaman ini terdapat bunga, maka pencatatan bunga juga harus dipisahkan dari pinjamannya. c) Hutang wesel jangka panjang yang segera jatuh tempo Hutang wesel jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun sejak tanggal neraca harus disajikan sebagai hutang lancar. Bila hanya sebagian hutang wesel jangka panjang saja yang jatuh tempo, maka sebesar bagian hutang tersebut harus dilaporkan sebagai hutang lancar dan sebagian lain yang belum jatuh tempo tetap disajikan dalam hutang wesel jangka panjang. Hutang Deviden Hutang deviden adalah jumlah uang yang harus dibayar perusahaan kepada pemegang saham akibat adanya pengumuman pembagian deviden. Pada umumnya, pembayaran atas deviden yang telah diumumkan akan dilakukan segera setelah tanggal pengumumannya. Oleh karena itu, hutang deviden termasuk dalam hutang lancar. Uang Muka dan Jaminan yang dapat diminta kembali Uang muka (Down Payment) disini merupakan pembayaran dimuka untuk barang-barang yang dipesan. Sebelum barang yang dipesan diserahkan kepada pembeli, uang muka tersebut merupakan hutang jangka pendek. Jaminan yang diminta dari pelanggan/konsumen juga merupakan hutang jangka pendek karena dapat ditarik sewaktu-waktu. Pungutan dan Pengumpulan dana untuk Pihak Lain Perusahaan biasanya ditunjuk sebagai wajib pungut atas pajak yang merupakan kewajiban bagi karyawan dan langganan kepada pihak ketiga (kantor pajak). Dana tersebut pada akhirnya harus diserahkan ke kantor pajak sehingga dana yang belum disetorkan diklasifikasikan sebagai hutang lancar. Hutang Biaya (Biaya yang masih harus dibayar) Adalah keharusan untuk mengakui adanya biaya-biaya yang manfaatnya sudah dinikmati dalam suatu periode, meskipun biaya tersebut belum dibayar. Penyajian hutang biaya dalam neraca disajikan dalam rekening biaya yang masih harus dibayar. Meskipun demikian, rekening-rekening pembukuan untuk biaya-biaya yang masih terhutang Hutang Gaji dan Upah, Hutang Sewa, Hutang Pajak tetap diselenggarakan. Pendapatan diterima Dimuka Adalah penghasilan dari penjualan barang atau penyerahan jasa yang diterimanya telah terjadi dimuka sebelum transaksi penjualan atau penyerahan jasa berlangsung. Contoh : uang muka yang diterima untuk langganan majalah / surat kabar. Hutang Bonus (Untuk Karyawan) Bonus yang diberikan kepada karyawan biasanya didasarkan atas gaji dan upah pokok. Adakalanya bonus yang diberikan kepada karyawan didasarkan atas laba yang diperoleh perusahaan. Perhitungan bisa dilakukan dengan cara : a) Laba sebelum pajak dan bonus b) Laba sesudah bonus tapi sebelum pajak c) Laba bersih setelah bonus dan pajak Hutang Gaji dan Upah Jumlah yang masih akan dibayar untuk gaji dan upah. Jurnal untuk mencatat utang gaji dan upah : Gaji dan Upah xxx Utang Gaji dan Upah xxx B. HUTANG YANG JUMLAHNYA DITAKSIR Ada beberapa jenis hutang yang jumlahnya secara pasti tidak bisa ditentukan, meskipun peristiwa atau transaksi yang menyebabkan timbulnya hutang sudah terjadi. Contoh : hutang garansi, hadiah yang diberikan atas produk yang dijual. Meskipun harian dari garansi belum dapat dipastikan dalam jumlah maupun tanggalnya, tetapi adanya kewajiban bagi perusahaan sudah jelas dan pasti, oleh karena itu harus diakui dan dilaporkan dalam laporan keuangan. Hutang Pajak Penghasilan Penaksiran pajak penghasilan biasanya dihitung berdasarkan laba yang diperoleh pada tahun yang bersangkutan dikalikan dengan rtariff pajak. Jurnal pencatatan : Pajak Penghasilan xxx Hutang Pajak Penghasilan xxx Hutang Hadiah yang Beredar Perusahaan kadang-kadang menawarkan hadian untuk penjualan produk-produk tertentu. Hadiah bisa diberikan secara langsung atau terbatas pada pembeli yang menyerahkan kupon. Hadiah ini merupakan biaya untuk periode dimana penjualan barang-barang tersebut terjadi. Kupon hadiah yang masih dalam peredaran merupakan hutang yang harus dicatat pada saat transaksi penjualan dan dicatat sebagai berikut : Hutang Garansi atas Produk yang Dijual Garansi merupakan jaminan oleh pihak penjual kepada pihak pembeli untuk memperbaiki/melengkapi kekurangan akan kuantitas, kualitas dari produk yang dijual. Garansi biasanya diberikan dalam bentuk : a) Perawatan gratis b) Penggantian kompoen atau bagian produk yang rusak c) Pengembalian uang atas harga yang dibayar pembeli C. HUTANG BERSYARAT Adalah kewajiban-kewajiban yang kepastian akan jumlah atau pihak kepada siapa kewajiban itu harus dibayar atau tanggal jatuh tempo pembayaran atau eksistensinya tergantung pada terjadi atau tidaknya salah satu atau lebih peristiwa yang akan datang. Sebenarnya, hutang bersyarat bukan merupakan hutang yang sah pada tanggal neraca sehingga dari segi akuntansi hutang bersyarat bukan merupakan hutang yang sesungguhnya dan tidak seharusnya dilaporkan dalam laporan keuangan. Namun sebagai kewajiban yang kemingkinan akan terjadi hutang bersyarat disajikan dalam catatan, footnote dalam neraca, contoh hutang bersyarat : a) Piutang Dagang yang digadaikan b) Piutang wesel yang didiskontokan c) Endosement atas wesel d) Adanya sengketa hukum e) Adanya kemungkinan, perusahaan diwajibkan untuk menyetor tambahan atas beban pajak atau denda f) Adanya keterikatan dengan kontrak/perjanjian g) Pembelian aktiva tetap dan atau pembangunan aktiva tetap berdasarkan kontrak Sumber : http://asepnurrafiq.blogspot.com/2008/11/hutang-jangka-pendek-hutang-lancar.html
Loan to Deposit Ratio (LDR) LDR adalah rasio keuangan perusahaan perbankan yang berhubungan dengan aspek likuiditas. LDR adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito berjangka, giro, tabungan, dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan pinjaman (loan requests) nasabahnya. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas. Rasio yang tinggi menunjukkan bahwasuatu bank meminjamkan seluruh dananya (loan-up) atau realtif tidak likuid (illiquid). Sebaliknya rasio yang rendah menunjukkan bank yang likuid dengan kelebihan kapasitas dana yang siap untuk dipinjamkan (Latumaerissa,1999:23). LDR disebut juga rasio kredit terhadap total dana pihak ketiga yang digunakan untuk mengukur dana pihak ketiga yang disalurkan dalam bentuk kredit. Penyaluran kredit merupakan kegiatan utama bank, oleh karena itu sumber pendapatan utama bank berasal dari kegiatan ini. Semakin besarnya penyaluran dana dalam bentuk kredit dibandingkan dengan deposit atau simpanan masyarakat pada suatu bank membawa konsekuensi semakin besarnya risiko yang harus ditanggung oleh bank yang bersangkutan. Menurut Mulyono (1995:101), rasio LDR merupakan rasio perbandingan antara jumlah dana yang disalurkan ke masyarakat (kredit) dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan. Rasio ini menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini semakin rendah pula kemampuan likuiditas bank (Dendawijaya, 2000:118). Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR suatu bank adalah sekitar 85%. Namun batas toleransi berkisar antara 85%-100% atau menurut Kasmir (2003:272), batas aman untuk LDR menurut peraturan pemerintah adalah maksimum 110 %. Tujuan penting dari perhitungan LDR adalah untuk mengetahui serta menilai sampai berapa jauh bank memiliki kondisi sehat dalam menjalankan operasiatau kegiatan usahanya. Dengan kata lain LDR digunakan sebagai suatu indikator untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu bank. Penyebab LDR Rendah Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa perbankan nasional pernah mengalami kemerosotan jumlah kredit karena diserahkan ke BPPN untuk ditukar dengan obligasi rekapitalisasi. Begitu besarnya nilai kredit yang keluar dari sistem perbankan di satu sisi dan semakin meningkatnya jumlah DPK yang masuk ke perbankan, maka upaya ekspansi kredit yang dilakukan perbankan selama sepuluh tahun terakhir sepertinya belum berhasil mengangkat angka LDR secara signifikan. Fungsi LDR Telah dijelaskan sebelumnya bahwa LDR pada saat ini berfungsi sebagai indikator intermediasi perbankan. Begitu pentingnya arti LDR bagi perbankan maka angka LDR pada saat ini telah dijadikan persyaratan antara lain : 1). Sebagai salah satu indikator penilaian tingkat kesehatan bank. 2). Sebagai salah satu indikator kriteria penilaian Bank Jangkar (LDR minimum 50%), 3). Sebagai faktor penentu besar-kecilnya GWM (Giro Wajib Minimum) sebuah bank. 4). Sebagai salah satu persyaratan pemberian keringanan pajak bagi bank yang akan merger. Begitu pentingnya arti angka LDR, maka pemberlakuannya pada seluruh bank sedapat mungkin diseragamkan. Maksudnya, jangan sampai ada pengecualian perhitungan LDR di antara perbankan. SUMBER : http://azurazhea.blogspot.com/2011/05/loan-to-deposit-ratio-ldr.html
Net Interest Margin (NIM) marjin bunga bersih (NIM) adalah ukuran perbedaan antara bunga pendapatan yang dihasilkan oleh bank atau lembaga keuangan lain dan nilai bunga yang dibayarkan kepada pemberi pinjaman mereka (misalnya, deposito), relatif terhadap jumlah mereka (bunga produktif ) aset. Hal ini mirip dengan margin kotor perusahaan non-finansial. Hal ini biasanya dinyatakan sebagai persentase dari apa lembaga keuangan memperoleh pinjaman dalam periode waktu dan aset lainnya dikurangi bunga yang dibayar atas dana pinjaman dibagi dengan jumlah rata-rata atas aktiva tetap pada pendapatan yang diperoleh dalam jangka waktu tersebut (yang produktif rata-rata aktiva). margin bunga bersih mirip dalam konsep untuk menyebarkan bunga bersih , namun penyebaran bunga bersih adalah selisih rata-rata nominal antara pinjaman dan suku bunga pinjaman, tanpa kompensasi untuk kenyataan bahwa aktiva produktif dan dana yang dipinjam dapat menjadi alat yang berbeda dan berbeda dalam volume. Margin bunga bersih sehingga dapat lebih tinggi (atau kadang-kadang lebih rendah) daripada penyebaran bunga bersih. Perhitungan NIM dihitung sebagai persentase dari aset dikenakan bunga. Sebagai contoh, rata-rata pinjaman bank untuk nasabah adalah $ 100,00 dalam setahun sementara itu memperoleh pendapatan bunga sebesar $ 6,00 dan bunga yang dibayar sebesar $ 3,00. NIM kemudian dihitung sebagai ($ 6,00 – $ 3,00) / $ 100,00 = 3%. Pendapatan bunga bersih sama dengan bunga yang diperoleh dikurangi bunga yang dibayarkan kepada pelanggan. Sumber : http://azurazhea.blogspot.com/2011/05/net-interest-margin-nim.html
Dasar-Dasar Perpajakan Definisi Dan Unsur Pajak Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang ( yang dapat dipaksakan ) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontrapretasi ) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluran umum. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsure-unsur : 1. Iuran dari rakyat kepada Negara 2. Berdasarkan undang-undang 3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari Negara 4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara Fungsi pajak 1. Fungsi Budgetair Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk menbiayai pengeluaran-pengeluarannya. 2. Fungsi Mengatur ( regulerend ). Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakssanaan pemerintahan dalam bidang social atau ekonomi. Contoh : a. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras untuk mengurangi konsumsi minuman keras b. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah untuk mengurangi gaya hidup konsutif c. Tarif pajak untuk ekspor sebesar 0%, untuk mendorong ekspor produk Indonesia dipasaran dunia. SYARAT PEMUNGUTAN PAJAK 1. Pemungutan Pajak Harus Adil ( Syarat Keadilan ) Sesuai dengan tujuan hukum, yakni mencapai keadilan, undang-undang dan pelaksanaan pemunggutan harus adil. 2. Pemungutan Pajak Harus Bersifat Undang-Undang ( Syarat Yuridis ) Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat2. Hal ini memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, baik bagi Negara maupun warganya. 3. Tidak Menganggu Perekonomian ( Syarat Ekonomi ) Pemungutan tidak boleh menganggu kelancaran kegiatan produksi maupun perdagangan, sehingga tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat. 4. Pemungutan Pajak Harus Efisien ( Syarat Finansil ) Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus dapat ditekan sehingga lebih rendah dari hasil pemungutannya. 5. Sistem Pemungutan Pajak Harus Sederhana System pemungutan yang sederhana akan memudahkan dan mendorong mesyarakat dalam memenuhi kewajiban pajaknya. Contoh : • Bea Materai disederhanakan dari 167 macam tarif menjadi 2 macam tariff • Tariff PPN yang beragam disederhanakan menjadi hanya satu tarif, yaitu 0% • Pajak perseroan untuk badan dan pajak pendapatan untuk perseorangan disederhanakan menjadi pajak penghasilan (PPh) yang berlaku bagi badan maupun perseoragan ( orang pribadi ). TEORI-TEORI YANG MENDUKUNG PEMUNGUTAN PAJAK 1. Teori Asuransi 2. Teori Kepentingan 3. Teori Daya Pikul a. Unsur objektif b. Unsur subjektif 4. Teori Bakti 5. Teori Asas Dya Beli KEDUDUKAN HUKUM PAJAK Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH, hukum pajak mempunyai hukum kedudukan anatara hukum-hukum sebagai berikut : 1. Hukum Perdata, mengatur hubungan antara satu individu dengan individu lainnya. 2. Hukum Publik, mengatur hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya. Hukum ini dapat dirinci lain sebagai berikut : • Hukum Tata Negara • Hukum Tata Usaha ( Hukum Administrasi ) • Hukum Pajak • Hukum Pidana HUKUM PAJAK METERIIL DAN HUKUM PAJAK FORMIL 1. Hukum Pajak Meteriil, memuat norma-norma yang menerangkan antara lain keadaan, perbuatan, peristiwa hukum yang dikenai pajak ( objek pajak ), siapa yang dikenakan pajak (subjek), berapa besaar pajak yang dikenakan ( tarif ), segala sesuatu tentang timbul dan hapusnya uang pajak, dan hubungan hukum antara pemerintah dan wajib pajak. Contoh : Undang-Undang Pajak Penghasilan 2. Hukum Pajak Formal, Memuat bentuk / tata cara untuk mewujudkan hukum material menjadi kenyataan ( cara melakasanakan hukum pajak meteril ). Hukum ini memuat anatara lain : a. Tata cara penyelenggaraan ( prosedur ) penetapan suatu ruang pajak. b. Hak-hak fiskus untuk mengadakan pengawasan terhadap para wajib pajak mengenai keadaan, perbuatan dan peristiwa yang menimbulkan utang pajak. c. Kewajiban wajib pajak misalnya penyelenggrakan pembukuan / pencatatan, dan hak-hak wajib pajak misalnya mengajukan keberatan dan banding. Contoh : ketentuan umum dan tata cara perpajakan. PENGELOMPOKAN PAJAK 1. Menurut Golongannya a. Pajak Langsung,yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : Pajak Penghasilan b. Pajak Tidak Langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai. 2. Menurut Sifatnya a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada sujeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak Contoh : pajak penghasilan b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan dirii wajib pajak Contoh : pajak pertambahan nilai, pajak penjualn atas barang mewah. 3. Menurut Lembaga Pemungutannya a. Pajak pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan membiayai rumah tangga Negara. Contoh : pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah, pajak bumi dan bangunan, dan bea materai. b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipunggut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai ruamah tangga daerah. Pajak Daerah terdiri atas : • Pajak Provinsi, contoh : Pajak Kendaraan Bermotor dan Pajak Bahan Bakar Bermotor • Pajak Kabutuhan / Kota, Contoh : Pajak Hotel, Pajak Rastoran , dan Pajak Hiburan. TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK 1. Stelsel Pajak a. Stelsel Nyata (riel stelsel ) b. Stelsel Anggaran (fictieve stelsel) c. Stelsel Campuran 2. Asas Pemungutan Pajak a. Asas Domisili (asas tempat tinggal) b. Asas Sumber c. Asas kebangsaan 3. Sistem Pemungutan Pajak a. Official Assessment system Ciri-cirinya: 1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus. 2) Wajib pajak bersifat wajib. 3) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus. b. Self assessment system Ciri-cirinya : 1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak sendiri. 2) Wajib pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajak yang terutang. 3) Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi. c. With Holding system Ciri-cirinya : wewenang menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak ketiga, pihak selain fiskus dan wajib pajak. TIMBUL DAN HAPUSNYA UTANG PAJAK Ada dua ajaran yang mengatur timbulnya utang pajak : 1. Ajaran Formal Utang pajak timbul karena dikeluarkannya surat ketetapan pajak oleh fiskus. Ajaran ini diterapan pada official assessment system 2. Ajaran Materil Utang pajak timbul karena berlakunya undang-undang Hapusnya utang pajak dapat disebabkan beberapa hal : 1. Pembayaran 2. Kompensasi 3. Daluwarsa 4. Pembebasan dan Penghapusan. HAMBATAN PEMUNGUTAN PAJAK 1. Perlawan Pasif Masyarakat enggan ( pasif ) membayar pajak, yang dapat disebabkan antar lain : a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat b. System perpajakan yang sulit dipahami masyarakat c. System control tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik 2. Perlawanan Aktif Perlawan pasif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak. Bentuknya anatar lain : a. Tax avoidance, usaha meringankan beban pajak dengan tidak melanggar undang-undang. b. Tax evasion, usaha meringankan baban pajak dengan cara melanggar un dang-undang ( menggelapkan pajak ). TARIF PAJAK 1. Tarif Sebanding/ proposional Tarif berupa persentase yang tetap, terhadap berapapun jumlah yang dikenao pajak sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenai pajak. 2. Tarif Tetap Tarif berupa jumlah yang tetap terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap. 3. Tarif Progresif Persentase tarif yang digunakan semakinbesar bila jumlah yang kenai pajak semakin besar. 4. Tarif Degresif Presentase yang digunakan semakin kecil bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar. SUMBER : PERPAJAKAN ( Prof. Dr. Mardiasmo )
Pengertian dan Konsep Pemasaran Pengertian Pemasaran Untuk skian lama,pengertian pemasaran sering diartikan dengan penjualan. Pengrtian pemasaran sebenernya lebis lua dari kegiatan penjualan. Bahkan sebaliknya, penjualan adalag sebagian dari kegiatan pemasaran. Secara umum, pengertian pemasaran adalah : Pemasaran adalah kegiatan pemasar untuk menjalankan bisnis (profit atau nonprofit ) guna memenuhi kebutuhan pasar dengan barang atau jasa, menetapkan harga, mendistribusikan, serta mempromosikannya melalui proses pertukaran agar memuaskan konsumen dan mencapai tujuan perusahaan. Unsur pokok dalam kegiatan pemasaran adalah : 1. Pemasar Pemasar adalah organisasi perusahaan atau perorangan yang mempunyyai tujuan tertentu bagi organisasi maupun pribadinya. Kapasitas pemasar satu dengan yang lain belum tentu sama. Pemasar dapat merupakan : I. Produsen ( umumnya berorientasi terhadap keuntungan ) II. Organisasi ( belum tentu berorientasi terhadap keuntungan ) III. Pemerintah ( berorientasi terhadap kesejahteraan umum ) 2. Barang dan Jasa Apapun bentuk sesuatu yang ditawarkan produsen untuk pemenuhan kebutuhan dan kegiatan konsumen. Barang dapat bersifat konkret, tidak konkret ( jasa ) atau kombinasinya. 3. Pasar Pasar adalah konsumen pribadi atau organisasi perusahaan yang mempunyai kebutuhan dan keinginan yang berwujud sebagai permintaan terhadap barang atau jasa. 4. Proses Pertukaran Pertukatan adalah kegiatan dua pihak yang masing-masing memerlukan sesuatu milik pihak yang lain sebagai usaha untuk memenuhan kebutuhan dan keinginan masing-masing. LINGKUP PENGERTIAN PEMASARAN Pemasaran mikro- Eksternal Pengertian pemasaran sebenernya tidaklah netral. Kepentingan pihak-pihak yang terlibat didalam pemasaran mempengaruhi pengertiannya. Lingkup kegiatan pemasaran pada ini melibatkan antara kepentingan internal ( lingkup mikro perusahaan ) pemasar dengan pasar pada posisi eksternal perusahaan ( orientasi eksternal ). Pengertian pemasaran yang melibatkan lingkup mikro perusahaan dengan orientasi eksternal dapat dikelompokan sebagai pengertian pemasaran mikro- eksternal atau sering dikenal sebagai pemasaran eksternal. Pemasaran mikro – internal Untuk pencapaian tujuan organisasi pada lingkup mikro perusahaan, dukungan pihak internal (pemodal, pelaksana, dan pengelola ) sangat diperlukan. Mereka mempunyai kebutuhan- kebutuhan yang juga perlu dipenuhi. Pemasaran makro – eksternal Pemasaran makro adalah proses penyebaran dan pengembangan kualitas hidup masyarakat. Usaha-usaha untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen Dalam kenyatan,karate dan tujuan anatara masyarakat produsen dan masyarakat konsumen berbeda. Individual produsen cenderung berusaha untuk mengkhususkan pada kegian spesialis tertentu untuk persyaratan produktivitas. Sedang konsumen mempuunyai permintaan yang heterogen untuk kelangsungan hidupnya. Perbedaan ini menciptakan pemisahan dan kesejangan. Yaitu separasi dan diskrepansi spasial, waktu, kuantita, keragaman, nilai, informasi, serta kepemilikikan. Tujuan makro adalah untuk mengatasi berbagai separasi atau diskrepansi anatara produsen dan konsumen. Fungsi pemasaran universal Untuk melakukan pemasaran, pemasar perlu melakukan kegiatan-kegiatan fungsional. Fungsi-fungsi pemasaran tersebut adalah : Pembelian, penjualan, pengiriman, penyimpanan, standardisasi, dan klasifikasi, pembukusan, penanggungan resiko, pendanaan, dan pengendalian informasi pemasaran ( misalnya periklanan ). Perkembangan konsep pemasaran Konsep produksi Adalah anggapan pemasar yang berorientasi kepada proses produksi ( internal ) bahwa konsumen hanya akan membelii produk-produk yang murah. Dengan demikian focus kegiatan perussahaan yang harus dilakukan adalah efisiensi biaya agar dapat menjual barang dengan murah kepada konsumen. Konsep produk Adalah anggapan pemasar bahwa konsumen lebih menghendaki produk-produk yang berkualitas atau penampilan baik. Dengan demikian tujuan bissnis perusahaan adalah pengendalian kualitas. Konsep penjualan Adalah anggapan pemasar yang berorientasi kepada tingkat penjualan ( internal ) bahwa konsumen perlu dipengaruhi agar penjualan dapat meningkat sehingga tercapai profit maksimum sebagai tujuan perusahaan. Dengan demikian focus kegiatan perusahaan adalah usaha0usaha maningkatkan cara-cara penjualan dan kegiatan promosi yang intensif agar mampu mempengaruhi, membujuk ( bahwa mungkin memaksa ) konsumen untuk membeli sehingga penjualan dapat meningkat. SUMBER :DASAR PEMASARAN (TEGUH BUDIARTO - UNIVERSITAS GUNADARMA )
Sejarah Akuntansi Sejarah akuntansi dimulai sejak manusia mengenal hitungan uang dan meng¬gunakan catatan. Pada abad XIV perhitungan rugi laba telah dilakukan pedagang-pedagang Genoa dengan cara menghitung harta yang ada pada akhir suatu pelayaran dan dibandingkan pada saat mereka berangkat Tonggak sejarah akuntansi dimulai pada tahun 1494 pada saat Lucas Paciolo {Lukas dari Burgos) menerbitkan buku ilmu pasti yang berjudul “Suma de Arilhmalica, Proportioni et Proportionaiita”. Dalam buku itu terdapat satu bab, berjudul ‘Tractatus de Computis et Scriptorio”. yang berisi cara-cara pembukuan menurut catatan berpasangan (double book keepingf). Sejarah Akuntansi dari abad ke abad Pada akhir abad XV, sejalan dengan menurunnya pengaruh Romawi, pusat per¬dagangan bergeser ke Spanyol, Portugis, dan Belanda. Akibatnya, sistem akuntansi yang telah dikembangkan Romawi juga ikut berpindah dan digunakan di negara-negara tersebut. Sejak itu perhitungan rugi laba mulai dibuat secara tahunan yang kemudian mendorong dikembangkannya penyusunan neraca secara rutin pada akhir jangka waktu tertentu. Pada abad XIX revolusi industri di Eropa mendorong berkembangnya akuntansi biaya dan konsep penyusutan. Pada tahun 1930, New York Slock Exchange dan Ameri¬can Institute of Certified Public Accountant membahas dan menetapkan prinsip-prinsip akuntansi bagi perusahaan-perusahaan yang sahamnya terdaftar di bursa saham. Akuntansi mulai diterapkan di Indonesia sejak tahun 1642. Akan tetapi bukii yang jelas terdapat pada pembukuan Amphioen Societeit yang berdiri di Jakarta sejak 1747. Selanjutnya akuntansi di Indonesia berkembang setelah UU Tanam Paksa dihapuskan pada tahun 1870. Hal ini mengakibatkan munculnya para pengusaha swasta Belanda yang menanamkan modalnya di Indonesia, Mereka menerapkan sistem pembukuan seperti yang diajarkan Lucas PaciĆ³lo. Kemudian pada tahun 1907, di Indonesia diperkenalkan sistem pemeriksaan (auditing) untuk menyusun dan mengontrol pembukuan perusahaan. Tidak banyak pembahan sistem akuntansi di Indonesia pada masa penjajahan Jepang* Setelah kemerdekaan pemerintah RI mempunyai kesempatan mengirimkan putra-putrinya belajar akuntansi ke luar negeri. Sedangkan pendidikan akuntansi di dalam negeri mulai dirintis fiada tahun 1952 oleh Universitas Indonesia yang mem¬buka jurusan Akuntansi di Fakultas Ekonominya. Langkah ini diikuti oleh perguruan tinggi lainnya. Pada tahun 1954 keluarlah UU No. 34 yang mengatur pemberian gelar Akuntan. Suatu organisasi profesi yang menghimpun para akuntan di Indonesia berdiri pada 23 Desember 1957 dan diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Organisasi ini mendirikan seksi Akuntan Publik tahun 1978 dan seksi Akuntan Pendidik tahun 1986. UU Penanaman Modal Asing dikeluarkan tahun 1967 dan disusul UU Penanam¬an Modal Dalam Negeri tahun 1968. Selanjutnya keduanya merangsang berdirinya perusahaan-perusahaan baru yang mengakibatkan semakin baiknya iklim investasi di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, akuntansi di Indonesia mengalami perkem¬bangan yang pesat. Selama ini terjadi dualisme praktek akuntansi di Indonesia. Di satu pihak banyak perusahaan menerapkan sistem akuntansi Belanda. Di pihak lain* sistem akuntansi Amerika semakin banyak digunakan akibat semakin bergesernya kiblat pendidikan akuntansi ke sistem Amerika serta semakin banyaknya perusahaan yang membawa sistem Amerika masuk ke Indonesia. Dualisme tersebut juga berpengaruh pada dunia pendidikan, terutama di tingkat pendidikan menengah. Akan tetapi, dalam Lokakarya “Pendidikan Akuntansi di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, telah dicapai kesepakatan sistem pendidikan akun¬tansi untuk pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang menggunakan sistem Amerika SEMBER : http://ilmuakuntansi.web.id/sejarah-akuntansi/